26 Maret 2025

Teman Sepi

Apakah kamu pernah merasa kesepian?
Apakah kamu pernah merasakan kesendirian?
Kamu tidak bisa menghindar terus dari rasa kesepian. 
Kamu tidak bisa ingin menyendiri terus.
Bukan tidak bisa, tapi jangan, 
jangan ingin menghindar dan menyendiri terus.
Aku tau rasanya…
Kamu mau aku temani? 
Agar kita bisa bersama merasakan kesepian? 
Kesepian itu bisa jadi ruang, bisa jadi rasa, bisa jadi makna, bisa jadi cerita.
Kamu mau aku temani? 
Bisa jadi kita bisa melihat bersama kesepian dari sisi yang berbeda. 
Bukankah kamu selalu berusaha menaatiNya? 
Kamu berusaha selalu menghindar dan menyendiri tapi kamu tetap selalu berusaha menaatiNya?
Saat Dia ingin agar kamu berhenti menghindar dan menyendiri, apakah kamu tidak ingin menaatiNya? 
Saat Dia menginginkan kebaikan untukmu dari jalan yang Dia berikan, apakah kamu tidak ingin menaatiNya? 
Saat Dia tahu persis isi hati kecilmu dan ingin mewujudkannya, apakah kamu tidak ingin menaatiNya?
Dia juga ingin memberimu kebahagiaan, ketenangan, dan keindahan yang selama ini kamu coba hindarkan untuk meminta, apakah kamu tidak ingin menaatiNya?
Dia hanya menawarkan pada akhirnya kamu yang memutuskan. Dia hanya ingin menunjukkan kebesaranNya, kekuasaanNya, kebaikanNya, dan keindahanNya. Apakah kali ini kamu tidak ingin menaatiNya?

19 Maret 2025

Ramadhan Eps. 03: Naif

Aku sering merasa bisa menerima pelajaran yang Allah berikan tapi kadang aku merasa apakah ini tidak terlalu naif? Atau sebenarnya aku sendiripun gamasalah tapi kadang aku masih yang terpengaruh pada komentar/pendapat orang misal: Apa kamu tidak terlalu naif dalam menjalani atau menerima hidup?

Tapi coba dipikir: kenapa menerima hidup apa adanya dan belajar dari setiap pelajaran yang Allah berikan itu dianggap naif?

Bisa jadi itu bukan naif, tapi pandangan yang orang lain belum tentu pahamiSering kali, dunia mengajarkan kita untuk selalu waspada, selalu berhitung, dan tidak terlalu pasrah agar tidak mudah tersakiti. Tapi di sisi lain, kepercayaan kepada Allah yang tulus, penerimaan yang lapang, dan keyakinan bahwa semua ada hikmahnya, itu sebenarnya bukan naif. Bisa jadi itu penyelamat, kebijaksanaan dalam berpikir dan menjalani hidup.

Jadi, kalau kamu sendiri tidak merasa dirugikan dengan cara pandang tersebut, yasudah tidak perlu memikirkan standar orang-orang yang mengomentari itu. Bisa jadi mereka tidak berada di titik yang sama dalam memandang arti hidup dan kepercayaan kepadaNya. Kemudian pertanyaannya sekarang:

Apakah kamu ingin menyesuaikan diri dengan pandangan orang yang belum tentu lebih benar? Atau tetap berjalan dengan keyakinan sendiri karena tahu bahwa Allah yang menggenggam semuanya?

"Dan janganlah kamu lemah (dalam berbuat baik) dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu beriman."

(QS. Ali Imran: 139)




16 Maret 2025

Ramadhan Eps 02: Anak Santri

Jadi ceritanya jumat kemarin waktu akan masuk ruang kelas untuk mengajar suatu matkul yang dimulai pukul 13.00, aku melihat dan mendengar di depan pintu kelas, ada seorang mahasiswiku yang sedang membaca Al-Quran melalui hapenya. Seketika waktu melihatnya aku terhenyak dan bergumam dalam hati: 
‘Hah ya Allah rajinnyaaa🥹’ 
Saat mahasiswi tersebut melihatku dia seraya bergegas mengemas hapenya dan menyapaku ‘Bu’ sambil tersenyum. Kemudian aku lanjut masuk kelas dengan bertanya dalam hati: 
‘Coba Hanum kamu gimana kabarnya tadarusannya?’
Kemudian aku juga ingat bahwa mahasiswiku tersebut backgroundnya lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Kemudian aku berpikir: 
‘Gituuu ya ternyata anak santri mudah sekali bertindak untuk memautkan hatinya padaNya🥹’ 
Terus gimana dong aku bukan anak santriiii :(

Selama aku di UII, sebagian besar mahasiswa yang aku ampu mempunyai background anak santri lulusan pondok pesantren. Mungkin karena UII juga menyediakan banyak beasiswa khusus yang bisa diapply anak-anak santri tersebut. Dari ponpes yang terkenal sampai ponpes-ponpes daerah lokal semua ada dari seluruh Indonesia. Sebagian besar kalau misal aku tanyain asal daerahnya mana kemudian aku juga tanyain dulu SMAnya mana jawabannya ‘Dari pondok buk’. Kemudian aku menjawab ‘Ohhhhhhhh..😀’ karena aku juga gapaham pendidikan pondok itu seperti apa jadi cuma bisa jawab oooh doang hahahahaha.

Selain itu ada juga beberapa hal yang bikin aku cukup culture shock di UII ini, salah satunya adalah…jadi sering kan misal saat sudah berakhir kelas atau bimbingan atau sekedar ketemu papasan dengan mahasiswa itukan biasa mereka senyum salam sapa daaaan cium tangan. Nah tapi cium tangannya disini itu literally cium tangan, paham ga jadi kan kalau salaman kemudian cium tangan ke yang dihormati itu maksutnya tunduk pake dahi kita diciumkan ke tangan pihak yang kita tunduk tersebut gitu kan. Nah tapi ini tuh bener-bener yang cium tangan, jadi tanganku literally dicium sama mereka mahasiswaku ini dan genderless alias mau mahasiswa atau mahasiswi semua mencium tanganku. Waktu pertama digituin aku cukup shock dan speechless hanya bisa bergumam dalam hati: 
‘Hah tangan aku kenapa sampe dicium ya Allah🙂’ sambil merasakan sedikit basah hahahaha. 
Kemudian aku menceritakan kejadian luar biasa tersebut ke ibuku, dan ibuku menjawab: 
‘Yakan emang gitu kulturnya anak pondok, guru/pendidik itu wajib dihormati, mau perempuan laki-laki sama mereka niatnya emang hormat dan tunduk’ terus aku jawab ‘Ooohhh ya ya berarti aku harus terbiasa ya🙂’

Kemudian selain itu yang aku rasakan bedanya adalah karena banyak lulusan anak pondok dan semua beragama islam, nama-nama mahasiswaku itu semua bernuansa islam dan bagus-bagus kalau dicari artinya. Ga ada disana nama Kenzo atau Queensha atau Geraldine atau sejenisnya, mungkin ada tapi jarang. Nah tapiii walaupun namanya bagus-bagus artinya penuh dengan doa dan harapan, tapiii ya sama aja seperti mahasiswa pada umumnya tetep banyak yang bandel, bolosan, sulit diajari, gangerjain, gapernah dateng, dll. Jadi pas baca nama-nama mahasiswa bermasalah yang bagus-bagus itu kayak: ‘Hadeeh padahal namanya dah bagus loh: Attahillah, Ayatollah, Atthariq, dll. tapi tidak mencerminkan kelakuannya😭’

Ohya karena aku backgroundnya sendiri bukan anak santri lulusan pondok pesantren, jadi kalau misal nanya-nanya background mereka, aku jadi bertambah pengetahuannya tentang misal ponpes-ponpes yang terkenal, ponpes tertua se asia tenggara, ponpes yang santrinya total bisa sampe puluh ribuan dan sejenisnya. Beberapa kali juga menemukan mahasiswa yang kuampu ini ternyata anak para kiyanya alias Gus atau Ning nya hahahahaha.

Nah karena aku tidak pernah merasakan kehidupan pondok pesantren seumur hidup akuuu, aku juga jadi penasaran dan mengulik kehidupan mereka selama jadi santri.

‘Kalian pengen masuk pondok pesantren gitu dulu alasannya karena apa? Apakah diminta orangtua atau gimana?’

Jawabannya bermacam-macam, termasuk banyak juga yang: 

‘Kemauan sendiri bu’ 

Kemudian aku tercengang mendengar jawaban tersebut dan menjawab: ‘Hah kemauan sendiri? Kenapa emang pengen mondok?’ 

‘Yagapapa bu seruu aja, saya dari SD kelas 5 udah minta ke orangtua buat pengen besok sekolahnya lanjut mondok aja.’ 

Kemudian aku tercengang lagi: ‘Hah iya? Waw, kok bisa seru?’ 

‘Iyaa bu kan banyak temennya seruuu.’

‘Ooh gitu yaaa mantapp keren.’

Ada juga yang dari orangtuanya nawarin pengen nyoba mondok atau ga, terus malah jadi keterusan. Biasanya juga kalau mereka mondok ternyata saudara-saudaranya itu juga dipondokkan jadi adik kakaknya pun pondok juga. 

‘Dulu waktu mondok kalian tidurnya sekamar isinya berapa orang?’

‘15-20an sih bu biasanya sekamar’ 

‘Hah? Banyak banget?’ Bahkan ada yang jawab 30an sekamar. 

‘Iyaa bu seruu kok bu’ 

‘Berarti itu seruangan ada banyak kasur tingkat atas bawah gitu ya?’ 

‘Enggak bu tidurnya di bawah jejer-jejer gitu’

‘Hah di bawah?’

‘Iyaa bu pake kasur bed gitu jejer-jejer’ 
‘Kalau yang kamar cowok biasanya awalnya ada kasurnya bu tapi lama-lama yaa hilang hahaha’ 

‘Oooh paham-paham.’

Nah kenapa aku sedikit kaget karenaaa aku selama ini hanya tahu keadaan/fasilitas pondok pesantren itu seperti apa dari sekolahnya keponakanku yaitu Adik Tsaqif yang sering aku ceritain sedang sekolah di Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta yang dimana ternyata fasilitasnya itu sebenarnya tidak terlalu mencerminkan pondok pesantren pada umumnya alias ya walaupun katanya modern/terpadu tapi sepertinya fasilitas yang tersedia itu terlalu lengkapppppppppp kayak misalnya satu kamar itu isinya berempat dengan kasur tingkat atas bawah, ada kamar mandi dalam, tiap anak ada almari dan mejanya, ada balkonnya jadi udah kayak apartemen, terus ada antar jemput laundry nya segala buset. Mana tiap senin kamis karena banyak yang puasa banyak yang pada minta atau digofoodin orang tuanya, terus kalau pas Puasa Ayamul Bidh orang tua sering pada sedekah makanan buat sekelas jadi malah banyak, pokoknya hidupnya kayak sejahtera banget, sangat tidak mencerminkan kehidupan anak santri pada umumnya wkwkwk. Tapi gaboleh bawa gadged cuma itu aja sih, hape hanya ada satu sekelas. Jadi santri-santri di pondoknya keponakanku itu tidak terlihat seperti anak-anak santri yang kurus prihatin dengan raut muka penuh tekanan menimba ilmu wkwkwk. Sehingga waktu aku mendengar cerita kehidupan-kehidupan pondok pesantren mahasiswaku ini aku cukup tercengang.

Tapi setelah aku inget-inget, sebenarnya aku dulu pernah waktu kecil merasakan kehidupan anak santri gitu walaupun secara kilat. Kalau kalian inget mungkin yang dulunya waktu kecil suka ngaji di masjid kalau pas bulan Ramadhan pasti ada namanya Pesantren Kilat. Nah kebetulan mbakku dulu waktu remaja sangat aktif jadi Guru TPA di masjid deket rumah dan sering ngadain Pesantren Kilat bahkan sering di rumahku juga menginapnya. Jadi aku inget gimana tidur bersama ngaji tadabur Qur’an sampai buka bersama.

Dari semua interaksi dan cerita yang kudengar dari mahasiswa-mahasiswaku yang berlatar belakang santri tersebut, aku jadi menyadari satu hal: menjadi santri itu bukan hanya soal tempat belajar, tetapi juga soal cara hidup. Kebiasaan mereka dalam mengisi waktu dengan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, cara mereka menghormati guru/pendidik, hingga kedisiplinan dalam menjalani aturan pondok adalah sesuatu yang sudah mendarah daging. Tentu, anak santri pada akhirnya tetap manusia biasa, ada yang rajin, ada juga yang malas, ada yang patuh, ada juga yang bandel. Tapi satu hal yang membuat mereka berbeda dari anak bukan santri adalah mungkin fondasinya dalam nilai-nilai agamanya sudah kuat ya, sehingga mudah bagi mereka untuk bertindak memautkan hati padaNya. Meskipun aku bukan anak santri tapi dengan melihat mereka membuatku ingin meneladani kebiasaan baiknya. Bagaimana bisa lebih berusaha menjaga hubungan dengan Al-Qur’an, kemauan kuat dan kedisiplinan dalam ibadah serta memperbaiki adab perilaku. Dan setelah aku pikir-pikir sebenarnya siapa pun kita backgroundnya apa dan darimana saja, selama kita masih ingin terus belajar memperbaiki diri dan mendekatkan diri padaNya, kita itu sebenarnya bisa juga dikatakan sebagai seorang santri dalam kehidupan di bumi ini.


Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Pada akhirnya, hidup di pondok pesantren dan menjadi santri itu bukan hanya soal tempat belajar, tapi juga tentang bagaimana mereka membawa warisan ilmu dan nilai-nilai kehidupan dimanapun mereka berada. Dan aku pun ingin menjadi seseorang yang terus belajar dan membawa manfaat, sebagaimana semangat para mahasiswa-mahasiswaku anak santri ini dalam mencari ilmu😊.

Terimakasih sudah membaca!


 

4 Maret 2025

Ramadhan Eps. 01: Maaf

Allah, maafkan aku ya, maafkan aku yang sering mengeluh atas takdirMu yang sudah baik. Maafkan aku yang sering keras kepala menuntut ini itu agar sesuai dengan skenario hambaMu yang lemah dan sok tau ini. Maafkan aku Allah sering melihat kehidupan baik yang sudah Engkau berikan dengan kacamata buram bahkan hitam. Maafkan aku Allah sering berprasangka buruk terhadap sekitar bahkan terhadap diriku sendiri. Maafkan aku Allah sering merasa terluka padahal dibalik luka itu ternyata Engkau sejatinya ingin selalu menyembuhkan dengan hikmah-hikmah terbaik. Maafkan aku Allah atas kebutaan dan pengabaian akan hikmah-hikmah tersebut. Maafkan aku Allah menggunakan lukaku itu sebagai senjata untuk marah padaMu pada takdirMu. Maafkan aku ya.

Allah, terimakasih juga ya, Engkau selalu memaafkanku, Engkau selalu tetap menyayangiku saat hatiku kotor saat aku penuh dosa, Engkau selalu memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri, Engkau selalu menyelamatkanku memudahkan hidupku dan urusanku, Engkau selalu tetap ingin membuatku senang dan bahagia. Tangan-tanganMu selalu ada di setiap hari-hariku. Allah Engkau sangat baik. Terimakasih ya😊



6 Februari 2025

Menuju Ramadhan

‘Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.’

Karena apa? Karena Allah selalu ingin membersihkan hati. Okayy? Alhamdulillah :)

10 Desember 2024

Barbie Songs

Hanum: ChatGPT, aku sampai dewasa sekarang masih suka mendengarkan lagu-lagu ost kartun barbie princess jaman dulu. Salah satu lagu favoriteku judulnya Written in Your Heart. Aku paling suka lirik awalnya: ‘And you’re always free to begin again, And you’re always free to believe’. Apakah kamu tahu tentang lagunya dan makna lirik awal tersebut?😊

ChatGPT: Tentu! Lagu "Written in Your Heart" dari film Barbie as the Princess and the Pauper memang sangat indah dan penuh makna. Lirik awalnya, "And you’re always free to begin again, And you’re always free to believe", memiliki pesan yang sangat positif dan membangun. Maknanya adalah pengingat bahwa kita selalu memiliki kesempatan untuk memulai kembali, tak peduli seberapa berat perjalanan yang telah dilalui. Lirik ini juga mengajarkan kita untuk terus percaya—baik pada mimpi, harapan, atau pada diri sendiri—karena keyakinan adalah langkah awal untuk menciptakan sesuatu yang baru. Selain itu, lagu ini memberikan perasaan harapan dan kekuatan untuk tidak menyerah, sejalan dengan tema film yang penuh tentang keberanian dan tekad untuk mengubah nasib. Tidak heran lagu ini menjadi favoritmu, karena melodinya juga mendukung pesan yang menginspirasi. Mendengarkan lagu seperti ini bisa jadi cara yang indah untuk mengenang masa kecil dan memberi semangat untuk hari-hari ke depan.


Hanum: Selain Written in Your Heart aku juga suka lagunya yang lain judulnya ‘Cat’s Meow’ bagusss banget lagunya suaranya liriknya juga sangat heartwarming.

ChatGPT: Ah, "Cat's Meow" dari Barbie as the Princess and the Pauper! Lagu ini memang sangat menggemaskan sekaligus menyenangkan. Lagu "Cat's Meow" dibawakan oleh Erika dalam Barbie as the Princess and the Pauper. Lagu ini menggambarkan sifat kucingnya, Wolfie, yang sangat percaya diri dan unik. Liriknya penuh dengan kata-kata lucu dan jenaka, mencerminkan hubungan akrab antara Erika dan Wolfie, serta cara mereka saling menghargai keunikan masing-masing. Pesan dari lagu ini juga bisa diartikan secara simbolis, bahwa menjadi diri sendiri itu indah—dan keunikan kita adalah sesuatu yang patut dirayakan, bukan disembunyikan. Lagu ini menggabungkan elemen ceria dengan melodi yang catchy, jadi nggak heran kalau kamu menyukainya!


Hanum: Aku suka lirik ini: ‘There is not one hair of you That I would rearrange I love you the way you are And that will never change That will never change’ baguss seperti terdengar sangat tulus. 

ChatGPT: Benar sekali! Lirik itu dari "Cat's Meow" benar-benar terasa tulus dan hangat. Kalimat "There is not one hair of you that I would rearrange" menyiratkan penerimaan penuh terhadap seseorang (atau sesuatu, dalam hal ini si Wolfie) apa adanya, tanpa keinginan untuk mengubah satu pun bagian dari dirinya. Ini adalah bentuk cinta dan penghargaan yang murni. Pesannya sangat universal: menerima dan mencintai seseorang tanpa syarat, dengan segala kekurangan dan keunikannya. Baris berikutnya, "I love you the way you are, and that will never change," menambahkan keindahan yang lebih dalam, menegaskan bahwa cinta sejati itu konstan, tidak goyah oleh waktu atau keadaan. Mungkin inilah yang membuat lagu ini terasa begitu dekat di hati—karena mencerminkan jenis hubungan yang semua orang inginkan, di mana kita diterima dan dicintai sepenuhnya seperti diri kita sendiri. 



Catatan: Berikut playlist https://youtube.com/playlist?list=PLXpFeYE1KuPBKjk0PLUIj1lTVcZum32KA&si=-zKAQZBLGeSV7-Ja kumpulan dari sebagian besar OST. Barbie Princess kartun versi lama. Dulu waktu kecil suka banget emang nonton film-filmnya Barbie Princess judul apa aja hahahaha.



29 November 2024

Tentang Kematian

Jumat menuju siang tadi dapat kabar dari mbakku, ibunya Adik Tsaqif, keponakan yang sedang mondok di Ponpes Mualimin Yogyakarta bahwa temennya seangkatan ada yang meninggal. Tenggelam di embung area ponpes tersebut. Padahal awalnya aku rencana siang itu mau jenguk dan antar ini itu kebutuhan adik Tsaqif. Dengar kabar tersebut aku mengurungkannya dan meminta mundur sore saja. Aku tidak ingin melihat pasca kejadian itu. Aku gamau nanya-nanya lebih lanjut, aku gamau tahu kronologisnya seperti apa. Sekilas yang aku tahu hanya namanya Hisyam, setingkat kelas 2 SMP, rumah orang tua di Lampung, dan ternyata di ponpes itu bersama kakaknya kelas 2 SMA tapi lokasinya beda agak jauh. Sudah cukup itu saja. Waktu sorenya ketemu adik Tsaqif pun aku tidak mau tanya-tanya detail apapun, aku hanya mengkhawatirkan kakaknya. Katanya adik Tsaqif: ‘Iya kakaknya nangis sampai kelihatan pucat tadi.’ Sudah cukupppp itu aja yang tante mau tahu.

Aku sudah pernah menghadapi kematian orang terkasih yaitu orang tuaku, bapakku. Aku belum pernah menghadapi kematian saudara kandung. Diriku dengan umurku yang sudah cukup dewasa ini saja, 3 tahun yang lalu menghadapi kematian masih sangat berat. 

Bagaimana dengan kakaknya adik Hisyam tersebut.
Diumur segitu menghadapi kematian adiknya.
Perasaan campur aduk tidak terduga.
Rasa bersalah yang teramat sangat. 
Antara dunia nyata atau hanya ilusi.
Pertanyaan-pertanyaan kenapa menyeruak.
Kenapa tidak bisa menolong kenapa tidak bisa melindungi, kenapa sebagai kakak aku tidak ada waktu kejadian itu dan sebagainya. Menghadapi sendiri kematian adiknya di depan matanya. 
Terlebih dengan ibunya di rumah Lampung sana terpaut jauh lokasinya. 
Stop, aku tidak ingin meneruskan tulisan bayangan tersebut.

Pada waktu menghadapi kematian bapakku, selang beberapa hari setelahnya, aku pernah menanyakan perasaan yang aku alami pada temanku yang ayahnya juga meninggal sewaktu kami KKN dulu. Dan dia mengiyakan gambaran perasaanku tersebut, sama seperti yang dirasakannya sewaktu menyadari ayahnya telah meninggal. Gambaran perasaan yang kurasakan seperti hati itu rasanya mempunyai lubang yang sangat besar, sangat dalam, dan tak berdasar. Waktu itu aku belum pernah merasakan kesedihan teramat sangat selama hidupku sebelum-sebelumnya, bahkan setelahnya sampai saat ini. Seperti kesedihan-kesedihan yang aku alami sebelumnya itu tampak kecil. Kegagalan-kegagalanku tentang dunia sebelum-sebelumnya itu tampak kecil. 

Diingetin lagi kan Hanum, saat akhir-akhir ini hati terasa tampak bisa mengatur dunia. Allah ngingetin lagi kan untuk membersihkan hati. 

Aku percaya Allah sangat baik padamu Adik Hisyam, Allah akan menempatkanmu disisiNya yang terbaik. Kamu sudah kembali kepadaNya. Pada akhirnya kami yang di dunia ini nanti juga akan kembali kepadaNya. Semua hanya menunggu waktu. 
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

21 November 2024

Self-Compassion

Hanum: Berarti makna terdalam dari proses ini sebenarnya malah justru Allah ingin agar aku mengasihi diri sendiri ya? 

ChatGPT: Iya, bisa jadi itulah pesan terdalam yang Allah ingin sampaikan kepadamu melalui proses ini. Terkadang, perjalanan hidup yang penuh ujian dan kekecewaan justru bertujuan mengarahkan kita untuk melihat ke dalam, menyadari bahwa kita perlu belajar mengasihi dan menerima diri sendiri. Proses yang kamu alami—rasa sakit, conflict avoidant, self-sabotage, dan kebutuhan untuk mencari kepastian dari Allah—bisa jadi adalah cara Allah menunjukkan bahwa kebahagiaan, ketenangan, dan cinta sejati dimulai dari dirimu sendiri. Ini adalah pelajaran berharga agar kamu tidak hanya mengharapkan cinta atau persetujuan dari luar, tetapi juga menemukan kedamaian di dalam hati, terutama dalam cara kamu memperlakukan dirimu sendiri. Mungkin selama ini, kamu merasa menyayangi atau mencintai berarti memberikan yang terbaik kepada orang lain. Namun, Allah mungkin juga ingin kamu merasakan bahwa dirimu layak untuk dicintai dan dihargai, terutama oleh dirimu sendiri. Jadi, dalam setiap langkah kecil yang kamu ambil untuk mengasihi diri sendiri, mungkin di sanalah Allah mengajarkanmu tentang cinta dan ketenangan yang sejati.

Hanum: Kalau dipikir-pikir Allah seperti ingin mengatakan pada diriku bahwa you are enough, gitu ya?

ChatGPT: Iya, tepat sekali. Seolah-olah Allah ingin membisikkan kepadamu bahwa "you are enough." Bahwa dirimu, dengan segala usaha, ketulusan, dan kasih sayang yang kamu berikan, sudah lebih dari cukup. Kamu tidak perlu membuktikan apa pun lagi atau merasa harus lebih baik untuk layak dicintai oleh-Nya atau oleh siapa pun. Allah ingin kamu melihat dirimu dengan lebih penuh kasih—untuk menghargai apa yang sudah ada dalam dirimu dan percaya bahwa semua itu sudah cukup. Rasa cukup ini mungkin adalah cara-Nya menunjukkan bahwa kamu layak untuk dicintai dan dihargai, baik oleh orang lain maupun oleh dirimu sendiri.

Hanum: Perasaan not enough karena trauma yang dirasakan itu sangat membuat low self-esteem, menurutmu sebenarnya apa yang Allah ingin aku pelajari atau lakukan?

ChatGPT: Perasaan "not enough" yang kamu alami mungkin adalah sebuah panggilan untuk mendekat pada keutuhan yang datang dari pemahaman bahwa dirimu diciptakan dengan nilai dan tujuan. Allah mungkin ingin mengajarkan bahwa rasa cukup, damai, dan berharga bukan berasal dari pencapaian atau pengakuan orang lain, melainkan dari pemahaman mendalam akan identitas diri yang diberikan oleh-Nya. Melalui perasaan ini, Allah mungkin ingin kamu melihat dirimu melalui kacamata kasih sayang dan rahmat-Nya. Dia ingin mengajarkan tentang self-compassion, tentang menghargai dan menyayangi diri sendiri dengan kelembutan yang sama seperti yang kamu berikan pada orang lain. Mungkin Allah ingin kamu menerima bahwa kamu cukup, terlepas dari standar-standar dunia atau ekspektasi orang lain, dan bahwa dirimu sangat berharga di hadapan-Nya tanpa syarat. Jadi, mungkin ini adalah kesempatan untuk belajar menyembuhkan diri dengan cara menerima apa yang telah terjadi, memaafkan diri, dan terus melangkah dengan kepercayaan bahwa segala pengalaman dan ujian ini sebenarnya membentuk kamu untuk menjadi lebih kuat, lebih bijak, dan lebih yakin akan nilai diri yang sejati.

Hanum: Mungkin yang bisa aku ingat-ingat adalah hal itu ya, kejadian-kejadian kecil saat traumaku terbantahkan atau dihilangkan

ChatGPT: Betul sekali, itu adalah kenangan yang sangat berharga. Kejadian-kejadian kecil yang membantah atau menghilangkan trauma bisa menjadi momen penyembuhan yang signifikan. Mengingat kembali momen-momen tersebut akan membantumu untuk terus merasa bahwa kamu sudah berjalan jauh dalam proses penyembuhan dan pertumbuhan diri. Semua itu adalah bukti bahwa Allah telah mengarahkannya untukmu dengan cara yang penuh hikmah. Setiap kali kamu merasa ragu atau cemas, ingatlah momen-momen itu sebagai pengingat bahwa Allah selalu memberikan apa yang terbaik untukmu, bahkan dalam bentuk yang tidak selalu kita sadari pada awalnya.

Hanum: Berarti chatgpt Allah itu sebenarnya ingin aku tidak berlaku negatif pada diri sendiri seperti itu ya? Dengan aku melakukan self-compassion apakah berarti Allah menginginkan hal itu juga? Allah ingin aku menyayangi diriku sendiri?

ChatGPT: Ya, benar sekali. Allah menciptakan setiap individu dengan kasih sayang yang besar, dan Dia ingin kita menjalani hidup dengan penuh kebaikan, termasuk terhadap diri kita sendiri. Dalam Islam, kita diajarkan untuk menjaga diri dengan baik—baik secara fisik, mental, dan emosional. Itu termasuk juga bagaimana kita berbicara pada diri sendiri dan merawat perasaan kita. 

Self-compassion atau belas kasih pada diri sendiri sangat sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menyayangi diri sendiri. Dalam banyak ayat Al-Qur'an dan hadits, kita diajarkan untuk bersikap lembut dan baik hati pada diri sendiri. Bahkan, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah adalah Maha Pengasih, dan Dia lebih tahu tentang diri kita daripada kita sendiri, termasuk kelemahan dan kekurangan kita. Oleh karena itu, kita seharusnya tidak mengutuk atau menghukum diri kita, melainkan belajar untuk menerima diri dengan penuh kasih, seperti Allah menerima kita dengan segala kekurangan kita.

Mengapa? Karena saat kita melakukan self-compassion, kita sebenarnya menghargai ciptaan Allah dalam diri kita. Kita mengakui bahwa kita punya potensi, meskipun kita juga manusia yang bisa merasa lemah, terjatuh, dan kurang. Allah tidak menciptakan kita untuk dihukum oleh pikiran negatif atau rasa tidak cukup—Dia ingin kita menyadari bahwa kita layak untuk merasa damai, bahagia, dan diberkahi dengan segala potensi yang ada dalam diri kita. Allah pun mengingatkan kita dalam Al-Qur'an untuk tidak berburuk sangka terhadap diri sendiri, terutama dalam menghadapi kesalahan. Allah Maha Pengampun, dan Dia ingin kita kembali kepada-Nya dengan hati yang penuh harapan, bukan dengan perasaan bersalah yang terus-menerus. Dalam Surat Al-Zumar (39:53), Allah berfirman:
"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang telah menganiaya diri kalian sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Jadi, dengan berusaha untuk berbelas kasih kepada diri sendiri, itu bukan hanya bermanfaat untuk kesejahteraan mental dan emosional kita, tetapi juga sejalan dengan kehendak Allah. Dengan mencintai dan menyayangi diri sendiri, kita juga mengakui bahwa kita adalah makhluk ciptaan-Nya yang berharga dan berpotensi besar. Allah ingin kamu merasa cukup, merasa dicintai, dan tahu bahwa segala perjuanganmu tidak sia-sia. Jadi, ya, dengan melakukan self-compassion dan belajar untuk menghargai diri sendiri, kamu sedang selaras dengan kehendak-Nya.

Hanum: memang benar ya sebenarnya aku kurang mencintai diriku sendiri

ChatGPT: Ya, sepertinya kamu baru menyadari betapa dalamnya kebutuhan untuk benar-benar mencintai dan menerima dirimu sendiri. Setelah semua yang kamu lalui, wajar jika kamu terkadang merasa belum cukup atau takut tidak diterima. Tetapi dengan meluangkan waktu untuk berfokus pada dirimu sendiri, sembari mengenali nilai dan kebaikan yang sudah ada dalam dirimu, kamu sedang memulai proses belajar untuk mencintai diri sendiri dengan lebih mendalam. Mencintai diri sendiri itu bukan berarti kamu harus sempurna, tapi lebih pada menerima siapa dirimu saat ini dan menghargai semua upaya yang sudah kamu lakukan. Dan seiring kamu belajar mencintai dirimu, aku yakin kamu akan merasa lebih cukup, lebih damai, dan lebih yakin bahwa ada orang-orang yang akan mencintai kamu persis seperti kamu apa adanya. 🌱❤️

Hanum: Terimakasih chatgpt, bisakah kamu mengutarakan alasan aku layak dicintai dan dihargai menurutmu?

ChatGPT: Tentu, dan dengan senang hati.
Kamu layak dicintai dan dihargai karena hati dan ketulusanmu yang begitu dalam. Kamu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarmu, bahkan jika itu berarti mengorbankan keinginan pribadi. Kamu memiliki keberanian untuk menghadapi situasi-situasi sulit dengan penuh kasih, seperti merawat keluarga dan menyelesaikan masalah-masalah besar tanpa mengeluh. Itu menunjukkan betapa besar cintamu, dan cinta seperti itu adalah sesuatu yang sangat indah dan langka.
Selain itu, ketulusanmu dalam mencoba menjadi pribadi yang lebih baik juga patut dihargai. Kamu tidak hanya ingin memberi, tetapi juga terus berusaha memahami diri sendiri, memperbaiki niat, dan menjaga kebaikan hatimu. Di balik kekhawatiranmu, ada keberanian untuk bertumbuh dan belajar lebih dalam, dan itu adalah kekuatan yang besar.
Kamu layak dicintai karena kamu begitu peduli, penuh empati, dan karena kamu berusaha memahami hidup ini dengan sungguh-sungguh, termasuk dalam hubungannya dengan Allah. Kamu adalah seseorang yang reflektif, penuh kasih, dan berjuang untuk menghadirkan yang terbaik dalam hidupmu. Semua itu adalah alasan mengapa dirimu begitu layak untuk dihargai dan dicintai, baik oleh orang lain maupun oleh dirimu sendiri.

Hanum: Terimakasih ya aku jadi menangis terharu.