Jadi ceritanya jumat kemarin waktu akan masuk ruang kelas untuk mengajar suatu matkul yang dimulai pukul 13.00, aku melihat dan mendengar di depan pintu kelas, ada seorang mahasiswiku yang sedang membaca Al-Quran melalui hapenya. Seketika waktu melihatnya aku terhenyak dan bergumam dalam hati:
‘Hah ya Allah rajinnyaaa🥹’
Saat mahasiswi tersebut melihatku dia seraya bergegas mengemas hapenya dan menyapaku ‘Bu’ sambil tersenyum. Kemudian aku lanjut masuk kelas dengan bertanya dalam hati:
‘Coba Hanum kamu gimana kabarnya tadarusannya?’
Kemudian aku juga ingat bahwa mahasiswiku tersebut backgroundnya lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Kemudian aku berpikir:
‘Gituuu ya ternyata anak santri mudah sekali bertindak untuk memautkan hatinya padaNya🥹’
Terus gimana dong aku bukan anak santriiii :(
Selama aku di UII, sebagian besar mahasiswa yang aku ampu mempunyai background anak santri lulusan pondok pesantren. Mungkin karena UII juga menyediakan banyak beasiswa khusus yang bisa diapply anak-anak santri tersebut. Dari ponpes yang terkenal sampai ponpes-ponpes daerah lokal semua ada dari seluruh Indonesia. Sebagian besar kalau misal aku tanyain asal daerahnya mana kemudian aku juga tanyain dulu SMAnya mana jawabannya ‘Dari pondok buk’. Kemudian aku menjawab ‘Ohhhhhhhh..😀’ karena aku juga gapaham pendidikan pondok itu seperti apa jadi cuma bisa jawab oooh doang hahahahaha.
Selain itu ada juga beberapa hal yang bikin aku cukup culture shock di UII ini, salah satunya adalah…jadi sering kan misal saat sudah berakhir kelas atau bimbingan atau sekedar ketemu papasan dengan mahasiswa itukan biasa mereka senyum salam sapa daaaan cium tangan. Nah tapi cium tangannya disini itu literally cium tangan, paham ga jadi kan kalau salaman kemudian cium tangan ke yang dihormati itu maksutnya tunduk pake dahi kita diciumkan ke tangan pihak yang kita tunduk tersebut gitu kan. Nah tapi ini tuh bener-bener yang cium tangan, jadi tanganku literally dicium sama mereka mahasiswaku ini dan genderless alias mau mahasiswa atau mahasiswi semua mencium tanganku. Waktu pertama digituin aku cukup shock dan speechless hanya bisa bergumam dalam hati:
‘Hah tangan aku kenapa sampe dicium ya Allah🙂’ sambil merasakan sedikit basah hahahaha.
Kemudian aku menceritakan kejadian luar biasa tersebut ke ibuku, dan ibuku menjawab:
‘Yakan emang gitu kulturnya anak pondok, guru/pendidik itu wajib dihormati, mau perempuan laki-laki sama mereka niatnya emang hormat dan tunduk’ terus aku jawab ‘Ooohhh ya ya berarti aku harus terbiasa ya🙂’
Kemudian selain itu yang aku rasakan bedanya adalah karena banyak lulusan anak pondok dan semua beragama islam, nama-nama mahasiswaku itu semua bernuansa islam dan bagus-bagus kalau dicari artinya. Ga ada disana nama Kenzo atau Queensha atau Geraldine atau sejenisnya, mungkin ada tapi jarang. Nah tapiii walaupun namanya bagus-bagus artinya penuh dengan doa dan harapan, tapiii ya sama aja seperti mahasiswa pada umumnya tetep banyak yang bandel, bolosan, sulit diajari, gangerjain, gapernah dateng, dll. Jadi pas baca nama-nama mahasiswa bermasalah yang bagus-bagus itu kayak: ‘Hadeeh padahal namanya dah bagus loh: Attahillah, Ayatollah, Atthariq, dll. tapi tidak mencerminkan kelakuannya😭’
Ohya karena aku backgroundnya sendiri bukan anak santri lulusan pondok pesantren, jadi kalau misal nanya-nanya background mereka, aku jadi bertambah pengetahuannya tentang misal ponpes-ponpes yang terkenal, ponpes tertua se asia tenggara, ponpes yang santrinya total bisa sampe puluh ribuan dan sejenisnya. Beberapa kali juga menemukan mahasiswa yang kuampu ini ternyata anak para kiyanya alias Gus atau Ning nya hahahahaha.
Nah karena aku tidak pernah merasakan kehidupan pondok pesantren seumur hidup akuuu, aku juga jadi penasaran dan mengulik kehidupan mereka selama jadi santri.
‘Kalian pengen masuk pondok pesantren gitu dulu alasannya karena apa? Apakah diminta orangtua atau gimana?’
Jawabannya bermacam-macam, termasuk banyak juga yang:
‘Kemauan sendiri bu’
Kemudian aku tercengang mendengar jawaban tersebut dan menjawab: ‘Hah kemauan sendiri? Kenapa emang pengen mondok?’
‘Yagapapa bu seruu aja, saya dari SD kelas 5 udah minta ke orangtua buat pengen besok sekolahnya lanjut mondok aja.’
Kemudian aku tercengang lagi: ‘Hah iya? Waw, kok bisa seru?’
‘Iyaa bu kan banyak temennya seruuu.’
‘Ooh gitu yaaa mantapp keren.’
Ada juga yang dari orangtuanya nawarin pengen nyoba mondok atau ga, terus malah jadi keterusan. Biasanya juga kalau mereka mondok ternyata saudara-saudaranya itu juga dipondokkan jadi adik kakaknya pun pondok juga.
‘Dulu waktu mondok kalian tidurnya sekamar isinya berapa orang?’
‘15-20an sih bu biasanya sekamar’
‘Hah? Banyak banget?’ Bahkan ada yang jawab 30an sekamar.
‘Iyaa bu seruu kok bu’
‘Berarti itu seruangan ada banyak kasur tingkat atas bawah gitu ya?’
‘Enggak bu tidurnya di bawah jejer-jejer gitu’
‘Hah di bawah?’
‘Iyaa bu pake kasur bed gitu jejer-jejer’
‘Kalau yang kamar cowok biasanya awalnya ada kasurnya bu tapi lama-lama yaa hilang hahaha’
‘Oooh paham-paham.’
Nah kenapa aku sedikit kaget karenaaa aku selama ini hanya tahu keadaan/fasilitas pondok pesantren itu seperti apa dari sekolahnya keponakanku yaitu Adik Tsaqif yang sering aku ceritain sedang sekolah di Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta yang dimana ternyata fasilitasnya itu sebenarnya tidak terlalu mencerminkan pondok pesantren pada umumnya alias ya walaupun katanya modern/terpadu tapi sepertinya fasilitas yang tersedia itu terlalu lengkapppppppppp kayak misalnya satu kamar itu isinya berempat dengan kasur tingkat atas bawah, ada kamar mandi dalam, tiap anak ada almari dan mejanya, ada balkonnya jadi udah kayak apartemen, terus ada antar jemput laundry nya segala buset. Mana tiap senin kamis karena banyak yang puasa banyak yang pada minta atau digofoodin orang tuanya, terus kalau pas Puasa Ayamul Bidh orang tua sering pada sedekah makanan buat sekelas jadi malah banyak, pokoknya hidupnya kayak sejahtera banget, sangat tidak mencerminkan kehidupan anak santri pada umumnya wkwkwk. Tapi gaboleh bawa gadged cuma itu aja sih, hape hanya ada satu sekelas. Jadi santri-santri di pondoknya keponakanku itu tidak terlihat seperti anak-anak santri yang kurus prihatin dengan raut muka penuh tekanan menimba ilmu wkwkwk. Sehingga waktu aku mendengar cerita kehidupan-kehidupan pondok pesantren mahasiswaku ini aku cukup tercengang.
Tapi setelah aku inget-inget, sebenarnya aku dulu pernah waktu kecil merasakan kehidupan anak santri gitu walaupun secara kilat. Kalau kalian inget mungkin yang dulunya waktu kecil suka ngaji di masjid kalau pas bulan Ramadhan pasti ada namanya Pesantren Kilat. Nah kebetulan mbakku dulu waktu remaja sangat aktif jadi Guru TPA di masjid deket rumah dan sering ngadain Pesantren Kilat bahkan sering di rumahku juga menginapnya. Jadi aku inget gimana tidur bersama ngaji tadabur Qur’an sampai buka bersama.
Dari semua interaksi dan cerita yang kudengar dari mahasiswa-mahasiswaku yang berlatar belakang santri tersebut, aku jadi menyadari satu hal: menjadi santri itu bukan hanya soal tempat belajar, tetapi juga soal cara hidup. Kebiasaan mereka dalam mengisi waktu dengan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, cara mereka menghormati guru/pendidik, hingga kedisiplinan dalam menjalani aturan pondok adalah sesuatu yang sudah mendarah daging. Tentu, anak santri pada akhirnya tetap manusia biasa, ada yang rajin, ada juga yang malas, ada yang patuh, ada juga yang bandel. Tapi satu hal yang membuat mereka berbeda dari anak bukan santri adalah mungkin fondasinya dalam nilai-nilai agamanya sudah kuat ya, sehingga mudah bagi mereka untuk bertindak memautkan hati padaNya. Meskipun aku bukan anak santri tapi dengan melihat mereka membuatku ingin meneladani kebiasaan baiknya. Bagaimana bisa lebih berusaha menjaga hubungan dengan Al-Qur’an, kemauan kuat dan kedisiplinan dalam ibadah serta memperbaiki adab perilaku. Dan setelah aku pikir-pikir sebenarnya siapa pun kita backgroundnya apa dan darimana saja, selama kita masih ingin terus belajar memperbaiki diri dan mendekatkan diri padaNya, kita itu sebenarnya bisa juga dikatakan sebagai seorang santri dalam kehidupan di bumi ini.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Pada akhirnya, hidup di pondok pesantren dan menjadi santri itu bukan hanya soal tempat belajar, tapi juga tentang bagaimana mereka membawa warisan ilmu dan nilai-nilai kehidupan dimanapun mereka berada. Dan aku pun ingin menjadi seseorang yang terus belajar dan membawa manfaat, sebagaimana semangat para mahasiswa-mahasiswaku anak santri ini dalam mencari ilmu😊.
Terimakasih sudah membaca!