Sabar Menghadapi Diri Sendiri
Mungkin kalian tau atau bisa melihat dari postingan-postinganku sebelum-sebelumnya bahwa tampak Hanum tuh orangnya agak lumayan keras sama diri sendiri ya, punya standar diri yang cukup tinggi. Tapi disisi lain kalau terhadap pihak eksternal atau di luarnya, dia bisa sabar dan pengertian menghadapinya bahkan sering menyalahkan diri atas kesalahan yang mungkin bukan dari dirinya. Khas banget ciri penginternalisasi ya. Nah salah satu sifat yang kupunya juga adalah suka menyalahkan diri sendiri atas segala hal yang tidak bisa aku lakukan dengan baik, menurut standarku yang tinggi ini.
Padahal sering kalau dengan orang sekitar itu bisa sabar. Padahal juga misal dulu waktu merawat alm. Bapak, bahkan ibuku saja sering masih tidak sabar menghadapi karakter alm. Bapak yang super ngeyel. Ya karena aku paham juga sih soalnya siapa yang gabosen harus makan sehat terus gaboleh manis berlebihan asam asin berlebihan. Dulu aku bisa dengan sabar menyiapkan semua kebutuhan ritual alm. Bapak sebelum dan sesudah makan, karena prosesi makan itu hal yang sakral saking banyaknya prasyarat sebelum makan dan sesudah makan baik itu dari obat. Misal jadi sebelum makan itu ada beberapa obat yang harus diminum berdasarkan rentang waktu tertentu: setengah jam sebelum makan dan sesaat sebelum makan kemudian suntik insulin, dan tiap kali minum obat itu bisa beberapa jenis obat tablet kapsul maupun sirup, kemudian makan yang dimana pantangannya banyak. Setelah makan selesai kemudian langsung minum obat juga. Nah kalau misal ada obat yang kelupaan sebelum makan tapi sudah makan, wajib diminum selang 2 jam setelah makan. Daaan semua ritual itu dilakukan 3 kali sehari. Masih harus menghadapi alm. Bapak yang kadang tantrum karena ya coba bayangin hidup penuh dengan minum obat dan makan sehat hambar. Itu aja aku masih bisa dengan sangat sabar dan bahagia menghadapi dan melayaninya. Bahkan untuk meredam tantrum alm. Bapakku dan menenangkan ibuku saja aku sering yang godain biar bisa cair suasana, misal sebelum minum obat atau suntik insulin pas mau ngasih ke alm. Bapak aku bilang:
‘Eh udah berdoa belum?’
‘Eh bentar bilang apa dulu?’
Terus alm. Bapak mau gamau kan terus bilang:
‘Bismillahirrahmannirrohim’
Terus kalau udah selesai semua aku bilang,
‘Bilang apa? Alhamdulillah’
Kemudian menghadapi ibuku,
Kemudian menghadapi semuaaaah keponakan-keponakanku,
Sering juga orang bilang dan ngasih testimoni kalau nyaman ngobrol sama aku, terutama usia anak-anak. Bahkan sampai pernah dibilangin kamu cocok jadi penggendam tauga? Semua orang tampak mudah cerita apapun ke kamu.’
Tapi untuk menghadapi diri aku sendiriiiihhh???
Yang paliiing sering adalah
‘Ya Allah Kenapa ya Allah aku genduttt kenapaa ya Allah aku susah kurusnyaaah??!
Jadi kalau kamu bisa sangat sabar menghadapi orang lain, kenapa kamu tidak mencoba sabar menghadapi dirimu sendiri? Menerima diri yang tidak sempurna dan mencoba berdiri berjalan perlahan? Yagasih?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar