11 Juli 2017

Aku, Kamu, Sipetung, dan Pilihanku.

Tulisan ini akan menjadi tulisan sejenis random curhat, didukung oleh lagunya Tulus dan beberapa lagu melow. Tulisan juga disponsori oleh umur yang sedang berada pada jajakan quarter-life crisis. Saya ingin cerita tentang beberapa hari ke belakang yang telah saya alami beserta insight yang saya dapatkan selama perjalanan. 

Kemarin tanggal 5 Juli saya dan teman-teman KKN pergi ke dusun kami dulu KKN yaitu dusun Tlogopakis, Sipetung, Rowo, dan Kambangan yang letaknya di tengah hutan Petungkriyono. Kalau di google maps cuma ada nama hutannya saja, tidak ada nama kelurahan atau kecamatannya jadi orang akan mengira disitu tidak ada kehidupan padahal nyatanya ada. Perjalanan ini bertujuan untuk sowan ke Pak Bau/Pak Dusun kami mumpung masih Hari Lebaran sekalian temu kangen sama keindahan alam dan kehidupan dusun terpencil tengah hutan tersebut. Awalnya saya tidak konfirmasi untuk ikut tetapi hari sebelumnya saya mendapatkan email undangan untuk mengisi di sebuah Room bernama Ripple Forum yang tersedia besok di Make a Difference Festival 2017 yang akan saya ikuti tanggal 21-23 Juli di Kwai Tsing Theatre, Hongkong. Sangat terharu saat membaca email undangan tersebut karena email tersebut ditulis secara personal oleh panitia yang menyatakan bahwa sangat tertarik dengan cerita saya tentang Project Social di Dusun Sipetung. Untuk tau lebih lanjut tentang project socialnya silahkan klik disini Story of Sipetung Village.



Jadi ceritanya waktu apply Make a Difference program dalam essay personal statement saya menulis tentang salah satu kegiatan yang sedang saya lakukan yaitu project social membantu Pak Bau Sipetung mengolah kopi dengan cara yang lebih modern. Saya menceritakan kondisi dusun Sipetung yang penuh dengan natural resources tetapi sayangnya tidak diolah dengan cara yang modern atau dengan teknologi yang lebih baik sehingga nilai jualnya rendah sekali. Setidaknya sampai level tengkulak masih sangat rendah. Dalam email tersebut panitia ingin mengetahui seberapa besar impact dari bantuan yang telah saya lakukan, berapa orang yang telah berubah hidupnya, berapa pemuda yang mengikuti pelatihan dan sebagainya. Jadi penjelasan yang lebih spesifik tentang dampaknya, dilihat dari measurementnya. Nah akhirnya saya memutuskan untuk ikut sowan buat ngasih tau ke Pak Bau juga tentang kabar baik ini sehingga nanti bisa expand networking, dan produk kopi Sipetung bisa Go International YEAH!. 

Perjalanan saya lakukan dengan Afin(Psikologi), Dafi(Teknik Elektro), Thundra(Elektronika dan Instrumentasi), Dini(Biologi), dan Faisol(Sejarah) naik mobil dengan bapak supir tangguh kami Thundra, Makasih ya Thundra. Oiya menarik kan komposisi asal jurusannya dalam satu mobil itu? Iya menarik sampai sepanjang perjalanan gabosen-bosen ngobrol, debat, sampai bikin marah hahaha. Perjalanan selama hampir kurang lebih 5 jam dari Yogyakarta sampai Pekalongan tepatnya Pasar Doro Pekalongan yaitu pasar sebelum kita memasuki hutan Petungkriyono. Perjalanan melewati hutan Petungkriyono sendiri menghabiskan waktu 2-3jam. Menyenangkan bisa journey lagi lewat hutan perawan yang tampakannya lebih serem dari Taman Safari ini. Jadi Hutan Petungkriyono merupakan salah satu hutan yang masih perawan di Indonesia, maksutnya perawan yaitu hutannya belum pernah terjajah sebelumnya jadi belum pernah ada eksploitasi besar-besaran dan kemudian di reboisasi gitu enggak, jadi benar-benar belum terjamah. Makanya tampakan masuk Hutan Petungkriyono sepanjang perjalanan akan disuguhi pemandangan lebatnya tumbuhan dan pohon-pohon tinggi dengan cabang-cabangnya yang menjuntai. Pokoknya kalau memasuki jalan lewat hutan ini siap aja kendaraan dalam keadaan fit karena kalau tiba-tiba macet di jalan, udah deh wassalam karena sepanjang jalan tidak ada bengkel tidak ada kehidupan. Jarak antara dusun jauuh jauuuh banget. 

Walaupun ga naik Doplak yaitu kendaraan khas Petungkriyono berupa pick up terbuka dengan besi-besi pegangan untuk naik di dalam bak pick up tersebut yang kalau lewat hutan Petungkriyono itu sensasinya sangat menyenangkan seperti naik roller coaster atau seperti sedang rafting jika pas hujan tetapi saya harus tetap menikmati perjalanan menyenangkan ini. Sudah hampir setahun yang lalu saya lewat jalan tersebut. Masih sama suasananya seperti memasuki Taman Safari dengan suara-suara Owa atau Monyet Jawa bahkan sering juga muncul di kanan maupun kiri pandangan mata, atau burung elang yang terbang dengan rendahnya dekat sekali sehingga tampak jelas. Menyenangkan!  

Berkat KKN di Petung saya baru sadar bahwa Indonesia itu kaya sekali, kaya banget malahan. Di Hutan Petungkriyono itu buanyak banget natural resources yang bisa dimanfaatkan dan bisa diolah menjadi suatu komoditas atau produk tertentu. Banyak banget nget. Selain itu kehidupan di desa itu menarik, banyak kegiatan-kegiatan tradisional yang saya penasaran pengen ikutan dan beneran tahun lalu dapat melaksanakannya walaupun cuma satu kegiatan diantara banyak kegiatan lainnya. Kegiatan kayak mencari rumput di hutan untuk pakan ternak, panen cengkeh, memetik kopi di hutan, membuat kolang-kaling, membuat gula aren dan lain-lainnya. Kegiatan yang bisa saya lakukan waktu KKN disana yaitu merumput, ya benar merumput untuk pakan ternak. Soon lah launching cerita pas KKN.

Nah kembali ke awal, pas sampai disana temu kangen dengan keluarga Pak Bau kemudian Pak Bau membawa saya ke LKP Rimba Pelangi diperlihatkan tentang progress dari LKP yang Pak Bau buat. Jadi setahun setelah KKN dan beberapa bulan setelah kejadian ini Si Connector dan Kepala Dusun progress yang dilakukan Pak Bau untuk memajukan masyarakatnya sangat signifikan. Waktu di sana saya senang karena Pak Bau sudah mempunyai alat yang cukup memadai dalam hal pengolahan kopi seperti alat roasting berkapasitas 3-5 kg yang didapat dari teman Pak Bau secara gratis dan ada alat grinder juga yang didapat Pak Bau dari bantuan pemerintah. Tetapi Pak Bau cerita kendala satu-satunya yang dihadapi masih tetap pada pemahaman masyarakat untuk diberi tau bahwa memetik biji kopinya jangan yang biji kopi hijau. Karena kata Pak Bau masyarakatnya pada bilang 'Kalau ga segera dipetik nanti dimakan monyet.' sehingga Pak Bau cukup kesulitan untuk mengolah kopi yang baik dan benar dari awal pengerjaan karena bahannya saja salah yaitu ada biji kopi yang masih hijau.

Kemudian ngobrol hal lain, Pak Bau menunjukkan progress dalam mengolah sirup jahe. Waktu itu Pak Bau juga ngobrolin tentang idenya untuk mengolah kolang-kaling menjadi komoditas yang nilainya lebih tinggi kalau dijual jadi tidak hanya mentah berupa kolang-kaling saja tapi dibuat menjadi kayak nata de coco gitu di bungkus dalam gelas-gelas plastik sehingga bisa dipasarkan.

Seneng sebenernya kalau ngobrol dan ngide sama Pak Bau sekeluarga. Seneng juga ngobrol-ngobrol sama penduduk desa, mbah-mbah, ibu bapak sana tentang apa aja random, saya kalau nanya emang suka random-random. Jadi obrolan seperti: kenapa ya ibu harus merumput tiga kali sehari? Kenapa ya warga sini buat gula arennya sendiri-sendiri kenapa ga buat koperasi atau ukm khusus buat gula aren gitu terstruktur dan terorganisir? Kalau petik kopi dimana mau ikutan bu? Sekarang lagi masa panen apa bu? Loh kenapa bisa jahe sekarang jadi murah banget? Kok bisa jadi busuk-busuk jahenya? Kalau penghasilan hanya dari bertani dan beternak aja terus kebutuhan sehari-hari dari apa dong? Kan panen padi setahun cuma berapa kali? Jual sapi 2 tahun sekali? Kenapa ayam disini tidak dikandang kan jadi kotor tempat sekitarnya? Kenapa itu kepala sapinya besar banget badannya juga besar sih? Jenis sapi apa pak? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Nah hal-hal kayak gitulah yang membuat kadang pikiran Hanum ini bisa liar. Liar kemana-mana. Connecting the dots. Di dalam otak kalau liat, dengar dan ngrasain hal-hal kayak gitu bisa muncul: Kenapa ga gini? Kenapa ga dibuat ini aja? Wah harusnya ini bisa dimintain tolong sama (entah temen saya, komunitas yang saya tau, platform yang pernah saya dengar, program pemerintah bagus yang saya tau, dan resources-resources lainnya)? Hmm bisa nih dibuat kayak gitu? dan statemen-statemen liar lain yang penuh di otak tiba-tiba. Yang akhirnya ngebuat saya kadang pusing sendiri karena bingung ngimplementasiinnya gimana hehe. Dan itu sering saya obrolkan juga dengan Pak Bau, dengan menggebu-gebu saya cerita pak kenapa ga gini? Pak kebetulan saya punya kenalan atau saya kebetulan tau ini itu dan sebagainya.

Hal itulah yang membuat diri saya melihat lagi ke dalam inner heart saya, hal-hal fundamental yang core problem nya saya ketahui yang akhirnya menimbulkan suatu statement: sebenernya apa yang ingin saya lakukan, capai, dan kontribusikan dalam hidup saya. Apa yang ingin saya lakukan ke depan. Menjadi apa saya di masa depan saya yang akan saya jalani berpuluh tahun lamanya(InsyaAllah). Dalam ranah hidup seperti apa yang ingin saya selami. Pertanyaan masa depan yang penuh dengan pertimbangan dilihat dari kesenangan saya apa, minat terbesar saya apa, apa yang membuat saya semangat, apa yang membuat saya ingin terus belajar-belajar dan belajar, apa kelemahan dan keunggulan diri saya, dan hal lain-lain. Apa yang saya cari? Apakah saya mencari meaning? atau saya mengejar kecukupan finansial?  Apakah saya memperdalam ilmu? Bahkan sampai pada pertanyaan: kemudian dengan siapa atau emang ada yang mau menjalani hidup seperti mimpi, cita, minat dan kesenangan seperti saya? atau mungkin bisa mungkin perlu melebur tapi toh kalau melebur juga pasti ada cross sectionnya kan?

Ya seperti itulah pertanyaan quarter life crisis. Kenapa saya mempertanyakan hal-hal seperti itu karena di umur seginilah saya akan making big decision yang kalau kata mas saya 20-25 itu saat dimana kamu making decisions dengan speed yang cepat jadi tidak ada kata menyesal, takut, pertimbangan oke sih tapi lebih tekankan pada try, take risk. Apakah saya akan menjadi pekerja profesional? pekerja birokrat? pekerja kontraktor? akademisi? freelancer? expertise? atau malah entrepeneur? sociopreneur? penulis? pekerja seni? daaan masih banyak lagi. Antara realistis atau idealis perlu diperhatikan.

Tapi semua itu sekali lagi kalau menurut saya coba deh mulai dari Connecting the dots. Saya percaya bahwa Allah memberikan titik-titik kehidupan setiap orang yang akhirnya akan bermuara pada suatu jawaban 'untuk apa sebenarnya saya dilahirkan' sebagai apa, dan kenapa, semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah dengan goresan penaNya. Karena dengan Connecting the dots insyaAllah keunggulanmu akan terasah dan ketidak-unggulanmu bisa tertutupi atau bisa kamu keep, mungkin untuk orang lain, bukan kah perlu ya saat teamwork?

Dan saat sudah making big decision saya hanya ingin mengatakan pada diri sendiri: Jalani dengan sungguh-sungguh day by day langkah sekecil apapun dengan keyakinan yang besar Allah akan membimbing kamu dengan niat tulusmu menjalani hidup yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Jangan hilang bayang-bayang baik itu, mimpi baik yang sudah tergambar jelas dalam nuranimu. Jangan takut berbuat salah, malah justru harus salah, harus beresiko, harus gagal biar tough-nya juga semakin kuat. Setiap pilihan ada konsekuensinya, jalani dengan sabar dan ikhlas jangan pernah berhenti berprasangka baik pada yang Maha Kuasa atas segala.

Makasih sudah baca.
Sangat diharapkan comment nya, mungkin kalian bisa sharing jajakan quarter life crisis seperti apa yang sedang kalian hadapi sehingga kita bisa saling belajar dan berbagi pengalaman serta pandangan :)               


4 komentar:

  1. Keren as usual nuuuum. Kalo based on Stephen Covey bilang, kamu beruntung kamu punya kesadaran diri bahwa kamu sedang di tahap itu. Semoga kita senantiasa dibimbing Allaah ya num, biar keputusan yang kita ambil adalah rencana terbaik yang memang Allaah siapkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih zahra :) Aamiin aamiin semangat buat Fahmi dan Zahra tetap menginspirasi :D

      Hapus
  2. Congrats, num! Ikut senang Hanum tembus MaD Asia. Keep shinning and spread the positive vibes through your words yaa, num :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yapp! makasih Bari! kamu juga kereeen banget! ayoo diupdate lagi blognya hehe :D

      Hapus