16 November 2017

22 kurang 2 bulan

16 November 2017

Dear Hanum,

Hey, apakabar? sudah menuju 22 kurang 2 bulan lagi. yeay. selamat sudah sampai sini.
jadi apa yang sudah kamu dapatkan? yang sudah kamu pelajari?

Aku tau kamu sedang di masa-masa campur aduk, banyak pandangan ternyata gabagus juga kan, banyak kemauan dalam satu waktu apalagi.

Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ingat, kamu tidak harus menjadi seperti apa yang orang lain inginkan darimu, kamu tidak harus menjadi kesukaan semua orang lain.

Jangan biarkan nyala api dalam diri itu meredup hanya karena kamu takut akan pandangan dan prespektif sekitar yang itu tidak membuat dirimu menjadi lebih baik. Setialah dalam perjalananmu dengan mimpi-mimpimu.

Kamu tidak harus menjadi siapapun, dengan selera-selera apapun.
Kamu unik, kamu hanya satu, bukan mereka, seperti mereka atau harus menjadi yang mereka inginkan. Jadilah dirimu sendiri, versi terbaikmu, prinsip terbaikmu, karakter terbaikmu, jaga itu karena hal tersebut yang akan membawamu ke jalan-jalan berikutnya. bersihkan selalu hati, rawat agar tidak mengering, jaga lisan dan tindakan, selalu. Penuhi pikiranmu dengan prasangka-prasangka yang baik, positifkan diri.

have a courage and be kind, you're worth than you think.
tidak sabar menunggu 22 tahun mu :)

10 November 2017

Si Asing dan Pencerita

10 November 2017

Entah kenapa akhir-akhir ini sedang suka mendengarkan lagunya Payung Teduh-Untuk Perempuan Yang Sedang di Pelukan, sedang berusaha membuat diri tenang dan kalem. Entah kenapa juga sedang mencari ketenangan hati dan jiwa. Apa yang sedang dicari sebenarnya?

Mungkin lelah pikiran, memendamnya sendiri, berusaha terlihat kuat, nyatanya dari dalam sedang memerangi prasangka buruk yang dibuat oleh diri. Terkadang hanya ingin tenang tanpa beban tanpa pikiran tanpa stereotype tanpa apapun, hanya menikmatimu, senjaku, bersama kopi mungkin(?). 

Betapa menenangkan hidup tak terburu oleh dunia dan waktu. Bertemu denganmu yang asing, yang tanpa perkenalan pun menghasilkan makna dalam nan asik untuk diramu bersama diiringi celotehan nan lucu menertawakan pikiran dan makna kehidupan.

Berlanjut sepanjang malam penuh dialektika tanpa jeda, memadukan frasa menggalakkan cerita, saling bersahutan menentang paham, yang melebur di akhirnya malam, bersama menciptakan impresi penuh arti, mengimaji untuk hidup yang lebih berarti.

Berjalan bersama menuju ufuk pagi yang terang, menangkap serpihan-serpihan nyala ibukota malam. Menjajaki jalan-jalan setapak, menjamah sudut-sudut pemukiman urban, mengabadikan momen di balik ruangan, menarasikan lakon-lakon sandiwara kehidupan.

Sampai akhir, pada ujung perjalanan, titik pergantian malam dan fajar, mengemas kesimpulan dan cerminan masa depan, mensyukuri titik-titik parsial kehidupan.


(bersambung)

8 November 2017

Satu Jam Perjalanan

Sudah terhitung lebih dari setengah tahun aku tidak melihatmu seperti dulu. Sudah lebih dari setengah tahun aku tidak melihatmu bahagia penuh antusias mengabdikan dirimu untuk suatu keikhlasan dan ketulusan. Sepertinya ada sesuatu yang hilang dari dirimu?

Dalam pulangmu setiap malam satu jam perjalanan jauhnya, kamu tidak lagi berbicara padaku tentang kontempelasi kehidupan. Pikiranmu yang dalam dan bermakna dari hari-hari yang kamu jalani. Yang dulu kamu sering lakukan yang sampai rumah kemudian kamu menuliskannya dan mencari cara untuk membantu menyelesaikannya. Yang kamu tuliskan di buku kesukaanmu itu, aku suka nama bukunya: 
Buku Ide/Kontribusi 

Dalam pulangmu setiap malam, aku juga tidak mendengar lagi hatimu sedih saat melihat orang-orang malam itu mengayuh becaknya tanpa ada penumpang di depannya, mendengarmu menggerutu di sepanjang jalan bagaimana cara membantunya, atau keinginanmu agar bisa menjadi penumpang terakhir mereka setidaknya. 

Aku tidak melihat lagi tangan kananmu bersembunyi memberi di antara malam pulangmu kepada mereka orang-orang berpeluh dengan keranjang di depan yang masih penuh, dengan pakaian yang lusuh. Di antara hujan deras kamu dulu sering melihatnya masih dengan bunga-bunga yang belum satupun terjual. Atau melihat yang lain, di tepi jalan dia duduk menekuri keranjang-keranjangnya tidak ada satupun yang berminat, dan saat kamu mendekat terlihat mata yang sangat kelelahan. Aku tidak melihat lagi matamu basah akan kejadian-kejadian itu walaupun dulu malah justru kamu sering mencarinya. 

Aku tidak melihat lagi antusiasme atau sekedar sapaan ramah saat kamu pergi ke pasar, kamu dipanggil sama ibu-ibunya tetapi kamu menjawab sekenanya. Aku tidak melihat lagi tertawa bahagiamu bersama mereka simbah-simbah atau bapak ibu saat kamu mengantar ayahmu kontrol rutin di rumah sakit, karena kamu tidak ikut pergi kesana sekarang. Bahkan, untuk hal yang paling kecil saja aku tidak melihat lagi kamu menonton video favoritmu, kamu bahkan sudah tidak berminat untuk pergi ke Larantuka bertemu Mama Mia, ibu inspirasi Kopernik. 

Ada apa denganmu? 

Aku juga tidak mendengar lagi syukur yang sering kamu sematkan dalam perjalanan satu jammu itu. Syukur akan hidupmu yang ternyata begitu nyaman, yang kamu menyadari bahwa saat ternyaman menjalani semua aktivitasmu masih ada yang berjuang keras hanya untuk makan layak. Dan aku selalu suka kesimpulan dari akhir perjalanan, saat kamu sering berjanji untuk menjalani hari-harimu kedepan sebaik mungkin atas wujud kebersyukuran itu. 

Aku tidak mendengar lagi ajakanmu ke tempat yang sering kamu kunjungi saat penat. Desa yang telah menjadi abdianmu dulu selama setengah tahun. Yang saat kesana di sepanjang jalan tak henti-hentinya kamu bahagia karena merasakan curam naik turunnya jalan tersebut. Tapi aku tau bahagiamu tidak sekedar itu, bahagiamu menemukan tempatmu kembali, menghilang dari rutinitas sejenak, sapaan ramah masyarakat, kelucuan anak-anak.

Apakabar mereka? 
Apakabar kamu?
Kamu kemana selama ini? 

Aku sedih melihatmu akhir-akhir ini, kamu sering takut, terburu-buru, cuek sekali dengan sekitar, pikiranmu penat, kegiatanmu banyak, keinginanmu banyak, egois sekali kamu akhir-akhir ini dengan dirimu sendiri. Kamu mengatur diri terlalu keras, satu jam perjalananmu lebih cepat sekarang karena kamu ingin segera pulang dan menyelesaikan semua. Satu jam perjalananmu hanya diam, atau malah marah, kesal dengan hari yang baru saja kamu jalani. Aku tidak tau ini memang sudah waktunya atau hanya sekedar fase yang harus dijalani sebentar. Tetapi aku rindu, aku rindu sekali dengan salah satu bagianmu yang dulu. 

Hatimu kering.....inginku melunakkannya.

31 Oktober 2017

Being a Woman Engineer

Last night I worked on essays about Women Engineer. Actually, I applied a forum called Women Engineer Unilever Leadership Forum for Indonesian organized by Unilever x WomEng.org  I found this information from Line Group and I feel that I capable to be one of the candidates and why not to try? It doesn't matter if I am not selected, I just like the questions they're given in the application form and I want to repost my application form here. So you can read my opinion about being Woman Engineer as well. Okay thank you, happy reading! :)

Why did you choose to study an engineering-related degree ?


I love math and science especially physics when I was in high school. So that, I was looking for a study that provides me into the practical field and also feeds my curiosity to understand how things work in scientific ways. I am an avid reader and a dreamer, but at the same time I love the security and clarity of science. My parents wanted me to take medicine at the beginning, but I knew that I was not into it. So I decided to choose taking an engineering degree.

Engineering is the field that solves the most impactful of our problems in the world and has the direct impact to the communities, like creating clean energy, detecting cancer, building bridges and so on. I enjoy seeing the first-hand what the engineers are doing, seeing the particular part is going to be used in a space, that one is going to be used to bring clean water to people in the density of desert areas. They are constantly changing the world with inventions and solutions that affect everyone’s lives. Engineers are like the wizards of our society, everyone wants them to fix their problems, and no one is quite sure how they came up with the solution.

I thought that being an engineer is fun because I get to use magic to create things every day. Civil engineering is the best choice for me and it gave me many satisfactions. I realize that this field builds something for people to use for years to come. And when you’re really engrossed in something which you know will make a huge difference to hundreds of thousands of people’s lives for many years to come, I think going off to study can never be anything less than exciting. 


Please describe your future career aspirations and your ideal employer.

I really passionate to do volunteering, almost in my whole-life-college is filled by voluntary activities. And in my way to do that, I've seen many problems in basic human needs that I believe I can provide the solutions which concern towards the problems of clean water and sanitation. Problems ranging from the processing of water resources to the problems of the household wastewater disposal. According to the United Nations, 63 million Indonesian people do not have an access to toilet so they still doing open defecation (BAB) in rivers, lake, and even sea. 

I think this is an important issue that needs to be resolved because it relates to the basic needs and healthy living. One of the personal reasons is I want to learn that the goodwill and having concern is not enough, I need to develop my self further in terms of science, intellectual power, and mastery of technology so that I can implement in an optimal contribution. I want to be a part of solutions in the field of clean water and sanitation problems in my country. I hope that one day I can see Indonesia public health increasing and no more children who are sick with pneumonia or diarrhea just because of the difficulty of access to clean water and sanitation.

My ideal employer is the one who values women engineers in the workplace, it’s mean that they also have a voice and want to feel heard and respected. Bringing women into the workforce is not just about plugging the skills gap. It’s about bringing a more diverse workforce where people can be confident expressing their ideas. It’s about how a more diverse workforce equals a more productive one. 

And also there is an emphasis on work-life-balance, women engineers tend to work hard and willing to put in the hours necessary to achieve the company goals but they do have a family too. I think that they are happier in a work environment where they can work hard, be rewarded and also have the flexible hours to have a life outside of the office. It is my belief that when woman work in an environment that allows them to feel valued, work hard yet have balance and offers opportunities to advance, they can represent the significant competitive advantage.  


Why would you like to participate in the WomEng-Unilever Leadership Program ?

I want to be a part of a movement toward equality and opportunity for women in engineering. A leadership program that provides the resources I need whether I am beginning, resuming, or building my future career. I want to broaden my network, meet as many people as I can who have similar passion in the field of engineering and technology. So that we can share our visions and our missions to make a difference in society. Facing the global issues with the kind of new board-minded, diversity of perspective, and creative solutions also collaborate and make the better world in terms of technology.

And also I want to see by myself that by having more woman an engineering and technology industry will have the stronger community, make more varied, innovative, and gender inclusive products and better serve our world as a hope.


What would you like to learn the most during the WomEng-Unilever Leadership Program?

I want to learn more about practical problems in real life as women engineer with the mentors. Because I know that my university prepares more for the technical challenge than it does the realities of performing at real work I guess.

I want to learn with the mentors about the necessary life and business skills to succeed in the industries, and also how to think through the technical challenge in the field of engineering in real projects. With the diverse background of the field of engineering, I want to know about the facing problems, solutions, and innovations in another field engineering.

okay, soo... are you a woman/female/girl engineer? please share your opinion too :)
These are some TEDxTalks video about the story become a female engineer, really cool! 

Andrea Gonzales, a girl who has a background in computer science build community called Girls Who Codes, and in 17 years old she created a game called Tampon Run, Through Tampon Run and women in the game industry, this girl wants to help us understand that women are ignored as users and creators of technology, and why.




Morgan DiCarlo is an undergraduate Civil Engineering student with a Business Management minor in the Women in Science and Engineering (WISE) Program at Stony Brook University. It is her dream to apply science and math principles to solve global water problems.




Iowa State University Computer Science major Cassidy Williams was often the only girl in the room. She shares her story of pursuing her passion as a model for encouraging women in STEM.




Debbie Sterling is an engineer and founder of GoldieBlox, a toy company out to inspire the next generation of female engineers. She has made it her mission in life to tackle the gender gap in science, technology, engineering and math. She create an engineering toy for girls called GoldieBox



and the one who have a background as woman mechanical engineer pursue her passion in racing and engineering and become a technical engineer at FORMULA SEA team and allowing her to become only the second female Team Lead in the team's 25 year history.. so coool!



15 Oktober 2017

oh this is life

jangan pernah menjadikan dirimu atau merasakan dirimu berada dalam bayang-bayang siapapun, status apapun, instansi apapun. jangan pernah membuat atau merasa dirimu seperti itu. jangan pernah. baik itu di ranah besar maupun kecil sekecil apapun. karena apa? kamu harus berjalan di atas badanmu sendiri, kamu adalah karakter, integritas, value, dan sifat yang kamu bangun, yang kamu ciptakan, yang kamu lakukan sehari-harinya, habit yang selalu kamu jaga. bukan apa yang melekat pada diri kamu. that's not define yourself.


Mari menghidupkan mimpi-mimpi itu lagi :)

25 September 2017

Quarter Life(3)

Beberapa akhir ini memilih untuk diam sejenak tidak terlalu banyak berkomentar tentang hal apapun dan tidak peduli pada apapun, bisa dibilang kehidupan orang lain. Menuju ke fase selanjutnya yang kata orang kehidupan sebenarnya. Tidak sabar menanti. Tetapi juga skripsi manis manja ini tidak mau melepasku cepat-cepat. Namun aku juga yakin tangan-tangan Tuhan sedang memberiku banyak pelajaran di masa ini. Sehingga yasudah ku nikmati saja alur perasaan naik turun ini.

Di sela-sela pengerjaan, aku sadar banyak kekurangan diri. Yang masih perlu diperbaiki. Hati yang masih perlu dibersihkan. Emosi yang masih perlu dikontrol. Tindakan dan ucapan yang perlu dijaga. Nafsu sementara yang sering membutakan. Kemalasan dan ketidakmauan yang menjerumuskan.

Quarter life crisis katanya, semakin banyak hal yang perlu ditoleransikan, diperjuangkan, dikalkulasikan, diintegritaskan, di-yaudah gapapa-kan, diprofessionalkan, dibelajarkan, disalahkan, dijerumuskan, dipilihkan, dan di-masih banyak yang lain.

Beruntung bagiku mengenal banyak orang dari berbagai golongan. Pernah berada pada fase termakan opini yang: 'ah IP gapenting, yang penting organisasi, pengalaman dll, akademik mah ga penting' yang akhirnya beneran organisasi bagus, social skill oke, di-kpft sering denger: 'Hai mbak Hanum!', ya ga sesering ketua BEM. Dulu setuju sama pendapat 'wah IP cuma masuk administrasi dll sebagainya'. Kemudian tiba-tiba semester 5 bertobat, tetapi organisasi/event tetap jalan, dan pada saat itulah baru tau perjuangan mendapat IP bagus itu tidak semudah yang dibayangkan. Dan aku berfikir: 'Gila ya jadi Raka susah juga ternyata' (Raka Bagus Panuntun, temenku lulus 3,5 tahun IPK 3,97) kemudian aku jadi sangat tidak suka dengan opini yang dulu aku percaya, aku ingin sekali bilang dan mendukung orang-orang seperti Raka saat ada yang menyebar opini seperti itu: 'Hei! kamu tidak tau ya perjuangan Raka, atau yang lainnya. Kamu sih belum pernah ngerasain dan coba sendiri!' see aku jadi hormat sama orang-orang seperti Raka karena aku udah tau perjuangan kerasnya.

Pernah juga pada fase anak BEM, yang disebut-sebut anak politik, birokrasi, banyak mikir, banyak omong, tapi cuma omong doang katanya. Dengan anak jurusan misalnya. See, apakah sesempit itu pikiran, kalau saat UKT kalian tidak ada yang memperjuangkan? Itu dulu.

Pernah juga pada fase menjadi anak volunteer, yang disebut: 'ah ga fancy, capek, kamu ngapain nglakuin hal-hal kayak gitu.' ga bersertifikat dan ga berpamor. Tetapi lagi, disaat itulah aku menemukan orang-orang luar biasa yang membuatku berpikir segala status itu tidak penting: status anak ugm, anak teknik, anak rantau, anak biasa, anak founder, anak jabatan dll. Semua hilang oleh pengalaman yang aku rasakan menjadi volunteer di cakupan fakultas, provinsi, nasional. Bertemu dengan orang-orang super kreatif dan tulusnya luar biasa. Boleh jadi salah satu turning point hidupku adalah fase ini.

Pernah juga pada fase anak hunter youth forum, baru aja masih hangat. Awalnya aku yang skeptis sendiri pada mereka-mereka yang sudah berhasil: 'Hmm perasaan mereka pengalamannya ga lebih dari aku tapi kok bisa ya harusnya aku juga bisa.' emang sombong benar padahal belum nyoba. Dan saat nyoba, mulai dari awal bekerja keras hampir 5 bulan lebih untuk mempersiapkan segala requirements. Ternyata kembali lagi, statement itu hilang, baru ngerasain sesulit dan sebekerja keras itu, dalam memenuhi requirement terutama. Percayalah dibalik 1-2 email kata 'Congratulation!' terdapat belasan kali email 'We regret to inform you that..' 'We have selected another qualified applicants..' Lumayan hardcore sih perjuangannya, dari tanggal 2 Januari sehari setelah hari yang biasanya digunakan untuk merenungkan resolusi awal tahun. sampai pada bulan awal Juni pertama kali mendapat email 'Congratulation!', sudah terhitung 15 kali lebih apply youth forum. Belum belajar bahasa inggrisnya, dalam 3 bulan hampir 1 kali dalam 2 minggu ikut TOEFL Simulation, sebulan sekali pasti ikut IELTS simulation Cilacs UII. Tiap bulan ngelist dalam satu folder isinya application form dengan nama file deadline dan eventnya:
'16 May___UNLEASH 2017' '4 April___MaD Forum 2017' dan laiinnya.

Hasilnya?
3 kali lolos sampai tahap akhir, tapi akhirnya 2 yang berangkat ke Denmark dan Hongkong, yang satu lagi harusnya Oktober ini ke Russia tapi bapak ibu mas mbak tidak menyetujui karena harus memprioritaskan skripsi. Sedih ya, tapi gapapa aku ikhlas dan bersyukur.
2 kali interview langsung dan via skype.
1 kali waiting list (update: dapet di Belize, deket pulau Karibia besok November, tapi travelflight bayar sendiri dan mahal)
Gagal? berkali-kali...
Yang niat awalnya: 'aku mau nyoba, aku juga pasti bisa' menjadi 'ya Allah aku bahagia bekerja keras seperti ini, aku belum pernah membuat diriku perlahan keluar dari zona nyaman berusaha menjadi Hanum yang lebih baik dari sebelumnya, alhamdulillah, apapun keputusanMu aku senang telah memilih jalan ini.'

kalaupun kamu gagal atau Allah meridhokan hal lain, setidaknya:


“At times Allah tests us, it is not to reveal our weaknesses, but for us to discover our strengths…” 

"Every struggle in your past has shaped you into the person you are today. Take God's hand and step into your future without fear."

Kemudian sekarang sedang pada masa menjadi mahasiswa yang tidak bisa post di instagram layaknya mahasiswa freshgrad dengan statement: 'Senangnya bisa lulus 4tahun, lulus tepat waktu' '4th yang lalu aku berdiri di sini menerima kuliah pertama kali' dan sebagainya. Padahal masih ada yang lain yang belum mengambil TA bahkan, atau misal John temenku anak Papua yang masih harus memenuhi sks berupa-rupa. Tapi aku juga turut senang melihat mereka yang lulus tepat waktu dan segera untuk menuju ke fase hidup selanjutnya.

Selain itu, sekarang juga tambah kenal dan berteman dengan mas mbak temen-temen yang kalau liat linked-in nya so wow. Atau liat profilenya di google, yaampun mas kok bisa kenal aku dan kemaren ngobrol-ngobrol santai sama aku yang apalah ini. Pada saat itulah aku berpikir pepatah jawa: 'Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman'. bukan berarti cuek loh tetapi lebih ke perlakukan semua orang sama, sama baiknya, sama meghargainya, sama berprasangka positifnya, sama mau membantunya, sama mau mendengarkannya dan sama-sama lainnya.

Ada teman bilang:

'Num, kok kamu bisa kenal orang kayak Putri, Mas Nabil, tapi kamu juga punya temen kayak kita yang gini keadaannya ya'

'Iya Hanum tu juga alpha-female, tapi dia beda dengan temen-temenku yg alpha-female lain. Dia masih punya rasa giving, sharing, caring ke yang lain.'

Terus kemudian aku berpikir, iya juga ya, kenapa ya, terus aku sadar, aku dari dulu punya prinsip bahwa jangan meremehkan atau merendahkan orang lain. karena aku dulu atau kapan pernah di posisi tersebut dan it goes nothing. Aku yakin setiap orang itu punya kemampuan, potensi dan kelebihannya masing-masing. Makanya aku selalu mengatakan ke diri sendiri: kamu tidak tau apapun tentang orang lain, dont easy to judge, just keep silent, give smile, and understand what they are talking.'


Hasil gambar untuk iceberg illusion


Seperti iceberg illusion, setiap orang punya apa yang tidak dilihat. Sukses digambar itu menurutku bermacam-macam, bukan hanya soal status sekali lagi, tetapi juga pencapaian/keberhasilan yang lain. Bukan sukses standar sosial biasanya, tetepi lebih ke 'coba kita pahami konteks'. Semisal, aku selalu merasa mbak Mar itu orang yang sukses dalam menghadapi hidupnya. Bekerja menjadi asisten rumah tangga pagi-siang-sore, malemnya kuliah, 5 hari dalam seminggu. Tidak punya orang tua, ayahnya meninggal, ibunya maaf 'gila'. Satu-satunya keluarga hanya adiknya. Hanya untuk dapat smartphone yang bisa buat WA aja nabung berbulan-bulan. Sudah semester 5 sekarang tetapi belum punya laptop, masih nabung. Walaupun dia juga sering ngeluh, tapi sekalipun tidak pernah berhenti bangun paling pagi dan tidur paling malam di keluarga Masku yang mempekerjakannya. Mimpinya Mbak Mar bekerja menjadi pegawai bank dan mendapat gaji tetap, sederhana kan menurutmu? tetapi dibalik itu perjuangan untuk meraihnya lebih keras. Banyak kan yang seperti itu, menurutku setiap orang berhasil/sukses dalam konteksnya masing-masing. Mungkin aku sukses karena fasilitas yang aku punya lebih jumlahnya untuk mengerjakannya, meraihnya, hanya tinggal diri ini mau apa enggak. Sehingga ya banyak faktornya, dan semakin banyak faktor atau fasilitas yang dimiliki seharusnya saat itulah aku merasa bersyukur, dan memanfaatkan hal itu dengan sebaik-baiknya.

8 September 2017

Quarter Life(2)

Hay semua :) 
Aku ingin mencatatkan sebuah pelajaran ini di blog yang sebenernya ini note to myself. Kenapa aku tetep catet diblog soalnya biar aku baca ulang lagi suatu saat kalau lupa hehe. Karena yang sering mengunjungi blogku sendiri pun aku sendiri :)) #sedihya 

Di masa-masa quarter life ini, pasti hati sering banget terbolak-balikkan, selain hati pandangan hidup juga, bener emang antara idealis dan realistis. terkadang kita pada puncak tertinggi idealisme sampai menggebu-nggebu, sampai ambisius banget. Bagus kalau memang kita yakin dengan apa yang kita lakukan. Tapi semua itu sirna saat kamu mulai membandingkannya dengan orang lain, kamu mulai menganggap diri kamu hebat, manusia merdeka, dan bebas lebih dari yang lain yang kamu anggap hanya mengikuti arus dan sebagainya. Dengan kata lain secara tersirat atau bahkan secara lisan kamu mengatakannya: 'ngapain gue jadi pns, gag lah gaji kecil, ngapain aku daftar pns.' semisal. Disaat di sebelahmu ternyata ada yang barusan sebelum kamu masuk bilang mimpinya kerja di Kementrian PUPR dan jadi PNS. kamu po num? enggak bukan aku lulus aja belum kan butuh scan ijazah wkwk ada lah orang lain. Gapapa emang bener kok faktanya, tetapi..jawabnya coba agak lebih selo.. Ada lagi beberapa kejadian serupa saking ambisiusnya bahwa 'aku akan berada pada jalan itu' tetapi dibarengi dengan melawan/merendahkan/menganggap remeh pekerjaan/kegiatan yang lain. See? Respect ga yang mau ngasih rejeki? 

Boleh kok suka banget, bahagia banget atau merasa oh itu jalan hidupku! tetapi pas perjalanan: 
'hey lihat jalan hidupku lebih menarik daripada punyamu, pilihanku lebih nyaman, ah apa itu punyamu.' 
No. di masa-masa quarter life crisis ini aku merasa kata-kata yang keluar dari lisan kita itu adalah doa-doa yang mengiringi usaha. beneran. aku udah liat beberapa kejadian yang dulunya ngomong apa dan bilangnya gimana ternyata berbulan-bulan kemudian semua berubah. Ya bener sih rejeki emang udah ada yang mengatur tetapi pasti juga perlu ditempuh dengan cara yang baik juga kan. Jadi kayak apa ya sekarang itu lebih ke: udaaah selow diem aja, banyak-banyak bersyukur, jaga lisan, pikiran, tindakan, dan hati hanum, you know nothing ttg apapun dan kehidupannya siapapun, yang penting kamu berpegang sama prinsip dan hidupmu :)

Karena bagiku sama sekali tidak ada pekerjaan yang rendah selama pekerjaan itu dilakukan dengan cara dan niat yang baik. Tidak ada. Bagus, pekerjaan apapun yang kamu lakukan. 

Kontraktor, aku kagum sama temen-temenku yang berani masuk sana dan berani untuk ditempatkan di tempat-tempat terpencil. Untuk membantu pemerintah, masyarakat, dan perekonomian Indonesia menjadi lebih maju lagi. Mungkin di Jakarta digembar-gemborkan akan dibangun 16 bendungan mulai tahun 2018 sebagai wujud pelaksanaan NawaCita Jokowi lalalalala tetapi coba 16 itu dikerjakan oleh mereka, orang-orang yang mau melaksanakannya di lapangan. Yang selama ini aku baca di Rencana Jangka Panjang/Pendek Jokowi yang tersemat dalam pdf atau kertas dan temen-temenku adalah orang-orang yang secara nyata mewujudkannya :')

PNS, kemarin aku barusan debat sama mas dan mbakku ngomongin tentang First Travel, siapa yang salah, kenapa bisa kejadian seperti itu, yang berujung pada komentarku: Gila Anisa Hasibuan cerdas dong berarti. Karena jadi sebenernya dia ngejalanin First Travel itu juga dengan strategi ekonomi juga namanya apa gitu kemaren lupa dan ada teorinya cuma emang banyak referensi juga yang mengatakan bahwa strategi investasi seperti itu tidak akan bertahan lama ditambah lagi Anisa Hasibuan yang tamak beli barang-barang mewah, jadilah semua terkuak dan kolaps. Terus pasti kita bakal nyalahin Anisa Hasibuan kan, tetapi masku bilang: ya gabisa serta merta nyalahin dia juga. Coba kita lihat lebih awal lagi. Kenapa First Travel yang kenyataannya cash flownya ga normal itu bisa terus jalan. neraca keuangan yang ga balance itu bisa terus beroperasi. kenapa dia bisa dapet ijin bahkan sampai katanya kalau di perjalanan travelnya dia nyewa pesawat sendiri untuk memberangkatkan umroh. Ada suatu keganjilan kan? Jadi kayak kenapa kita baru aware saat ada banyaak sekali korban-korban terkuak dan kita baru sadar selama ini emang kita kemana? kok ga mencegah? Berarti bisa aja dong regulasinya. Regulatornya selama ini gimana nih, kenapa ada kejadian seperti ini, yang bahkan sampai travel-travel haji lainnya sempet pada lapor dan protes karena first travel matok harga murah banget bahkan dari travel yang murah-murah. mematikan pasar travel yang lain. Nah pada saat itulah: oiya ya regulatornya yaa. Siapa orang-orang pemegang regulasinya? orang PNS. pegawai pemerintahan. Apalagi regulasi-regulasi yang lain birokrasi-birokrasi yang lain, mereka yang megang. Bagus kan pekerjaan yang impactnya buat banyak orang. bahkan langsung ke masyarakat. dan itu regulasi bayangkan peraturan hidup. Keren dan itu adalah pekerjaan dasar yang efektif untuk mewujudkan kesejahteraan, ketertiban umum. 

Peneliti, ini barusan diceritain afra sih tentang dosbingnya yang superr galak tapi juga supeeer pinter ibunya masuk lima ilmuwan wanita indonesia yang mendunia kalau di searching google semua artikel bilang gitu wkwkw. Keren menurutku ibunya, dia penemu bahan gusi palsu dengan harga lebih murah tetapi juga aman, nah dia ahli biomaterial katanya coba searching aja namanya Prof Widowati Siswomihardjo. Aku percaya bahwa salah satu kekuatan dari majunya negara salah satunya adalah inovasi teknologinya. dan orang-orang yang berada dalam ranah itu kereen. kereen banget. jadi kita gaharus ngimpor gusipalsu lagi. 

Kepala Dusun, waah ini pekerjaan keren juga menurutku, banget malah, dedikasinya besar daaaaan dia adalah leader tingkatan terakhir yang langsung nyentuh masyarakat, ya walaupun masih ada ketua RT,RW juga tapi mereka juga keren. Udah banyak nemuin Kepala Dusun berdedikasi tinggi, bersemangat, dan ikhlaas banget hidupnya untuk melayani masyarakatnya, mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Bahkan aku pernah baca profil dosenku, guru besar ugm, dosen tertua di sipil, udah dapet satya lencana kesekian, dapet gelar dari paku alam atau keraton atas ilmu dan penemuan-penemuannya. Namanya Prof Sunjoto, kamu tauga umurnya skrg 70th kelahiran 1947 bayangin udah sepuh kan tapi masih semangat ngajar dan aku suka. Di buku yang beliau tulis yang pernah dikasih ke aku itu ada profilnya, beliau bilang kalau selama ini beliau menjadi dosen, peneliti, guru besar dan pekerjaan-pekerjaan yang pernah beliau lakukan diantara itu yang paling beliau sukai adalah menjadi ketua RW hehe. Lucu kaan :' mau se wow apa ternyata beliau sangat menikmati dan suka menjadi ketua RW suka dengan budaya gotong royongnya, musyawarah dll. 

Apalagi yaa, masih banyak kok. menurutku semua pekerjaan yang diniatkan dan dilakukan dengan baik itu ya Baik. Jadi intinya adalah pada masa-masa quarterlife ini emang kita banyak pandangan, hati mudah terbolak-balik, ego naik turun, tetapi jangan sampai membutakan semua ingat quarter life adalah masa-masa perjuangan. semua masih sama-sama belajar, berdoa, berusaha, jadi saling respect aja. Jaga hati, lisan dan tindakan, fokus dan pegang prinsip hidup.