14 Februari 2018

Bukan Untukmu

Selamat Malam, Dilan.
Loh?
Oh salah ya wkwk maaf.
Selamat Malam, kamu.

Hujan di luar dingin di dalam. Ditemani secangkir teh hijau hangat tanpa gula, kebiasaan malam sebelum tidur yang aku suka. Lebih sehat dari kopi katanya, untuk sedikit menajamkan mata agar mau tertidur pada lebih sedikit larut malam.

Kembali membuka tulisan-tulisan lama. Tak sengaja. Berawal dari sedikit percakapan online dengan adik tingkat yang tetiba aku suka blognya. Seperti melihat diriku di waktu dulu. Tulisannya mengalir menceritakan hal sederhana dengan observasi dan pemikiran yang tajam. Mempertanyakan maksud-maksud makna kehidupan. Kejadian kecil selewat pandang yang ternyata dapat menggugah jiwa dan rasa. Tulisan yang berasal dari jiwa dan tanpa ada tendensi apapun. Beda kan rasanya?

Diantara tabulasi chrome ku malam ini yang penuh dengan hal preparation exam dan tips and tricks menjenuhkan. Aku melihat lagi tulisan lamaku. Ternyata sudah lama juga aku menjalankan blog ini. Yang aku ingat ini adalah blog ketigaku. Setelah blog pertama aku buat waktu SMP berisi diary anak sekolahan yang hidup masih sekedar main, lucu-lucuan, galau-galauan, belum merasakan quarter-life-crisis. Eh iya! aku pertama kali mengenal internet dan warnet saat SMP! nostalgia lagu-lagu jaman warnet SMP. Oiya fyi aku dulu suka banget sama Avenged Sevenfold loh, suka banget sampe punya merch kw nya, gambar-gambar skull ga jelas di buku tulis setiap jam pelajaran. wkwk duh alay tapi aku suka.

Blog yang kedua, kamu harus percaya ini ya, blog yang aku buat dengan judul Calon Menteri Pendidikan Nasional. Iya Beneran. Percaya deh. Ya walaupun diantara galau-galau masa SMP tersebut, aku masih sempat peduli pada sekitar pada suatu hal yang bermanfaat yaitu pendidikan. Berawal dari ketidaksukaan pada sistem pendidikan yang membedakan antara sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berbasis International) yang jelas-jelas itu sekolah negeri dengan bukan sekolah RSBI. Selain itu kejenuhan dengan sistem ujian terstandarisasi seperti Ujian Nasional yang di saat itu aku juga tidak menyangka itu berasal dari pemikiranku bahwa kemampuan siswa tidak bisa diukur dengan suatu hal yang standar. Kemudian lahirlah cita-cita menjadi Menteri Pendidikan Nasional. Hahahaha. Ingat sekali dalam blog itu penuh tulisan anak SMP yang sok-sok an mengkritik sistem pendidikan Indonesia. Sampai juga waktu itu lahir cita-cita jika aku tidak bisa menjadi mendiknas yasudah aku akan kerja di ranah kebijakan pendidikan. Kemudian berfikir kerja apa dan dimana. Kemudian aku ingat dulu waktu sesaat setelah Gempa Bantul 2006 sekolah-sekolah yang roboh dan siswa-siswanya diberi bantuan oleh suatu lembaga yang di setiap alat tulis dan kebutuhan sekolah lainnya seperti tas terdapat lambang dan tulisan dari nama lembaga tersebut. Yaitu UNICEF, haha ya benar sesederhana itu aku dulu pernah bermimpi kerja di UNICEF. Tapi seiring berjalannya waktu dan tekanan society semakin memasuki kehidupan. Sejak kelas 3 SMA mimpi itu aku hapus untuk suatu lain hal yang tidak bisa aku ceritakan. Aku berhenti memiliki antusias yang besar pada masalah pendidikan. Sekarang antusiasnya sedikit, maksutku bukan suatu tujuan, peduli tetapi bukan tujuan menuju ranah tersebut. Dan sedihnya blog itu aku hapus. tanpa orang tau aku punya blog tersebut. mungkin sedikit tetapi bahkan aku menyembunyikannya dari teman-teman SMA dan waktu itu juga sudah jarang menulis disana.

Blog ketiga adalah ini. Aku buat tahun 2014 pada semester 2 perkuliahan. Sampai sekarang bertahan. Yang sama pada awal mulanya tulisan seperti diary tetapi lebih banyak pandangan, resapan, dan kejadian. Yang awalnya personal hanya sedikit orang yang tau sampai pernah pada pengunjung peak tertinggi. Aku memang memutuskan blog ini bukan untuk disebar-sebar. Karena kebanyakan juga tulisannya untuk self-reminder. Membaca post lama mengingatkan diri siapa aku sebenarnya apakah aku berkembang lebih baik, atau aku melenceng ke arah yang tidak baik. Dan disinilah aku juga menceritakan pengalaman-pengalaman yang pernah aku jalani. Melewati umur dengan kejadian-kejadian menarik. Sederhana dengan makna dalam, besar dengan makna hambar. Semua ada disini. Dan akan tetap berlanjut.


Malam ini aku membuka post lama ini. Kumpulan video yang sengaja aku simpan karena aku suka melihatnya. Mengingatkanku pada apa yang sudah aku lakukan. Berada pada persinggungan ranah-ranah pekerja sosial yang aku waktu itu suka sekali, menjadi volunteer dan facilitator volunteer. Memaknai kehidupan yang ternyata tidak sesederhana yang aku bayangkan. Mengisi hati dengan kepedulian terhadap akar permasalahan sekitar. Apapun.

Rindu rasanya berkutat pada ranah-ranah tersebut. Tetapi saat ini tidak sedang waktunya. Awalnya aku merasa apakah aku keluar? Apakah aku sudah tidak peduli? ternyata bukan. sama sekali tidak. Aku hanya berhenti sejenak. Kenapa berhenti? Karena aku merasa perlu belajar. aku masih bodoh. aku masih belum bisa memberi apa-apa. ya benar seperti yang pernah aku bilang. bukan hanya tentang ketulusan dan kemauan tetapi juga perlunya diikuti dengan kekuatan intelektual, penguasaan teknologi, dan inovasi yang diharapkan dapat menghasilkan suatu yang lebih bermanfaat, lebih luas, dan lebih menjangkau ke akar permasalahan. Tidak kataku pada diri sendiri. kamu tidak keluar, hanya berhenti sejenak mengasah ketajaman pikiran, mental dan hati.

Walaupun terkadang jenuh terkadang ingin berhenti menggenggam nyalanya. Ingin berhenti dari segala macam persiapan ini. Ingin berhenti berkutat pada tulisan, argumen, opini ini. Ingin lebih banyak aksi walaupun kecil, seperti dulu. Atau malah ingin yang cepat dan melupakan segala usaha, ambil yang sekiranya mudah. Terkadang ingin sudah biarlah apamaumu kehidupan! Tetapi jangan, jangan menyalahkan, kamu hanya lelah, sejenak istirahatlah damaikan diri dan tumbuhkan rasa kata dan makna itu lagi. Entah bagaimana jadinya nanti, percayalah perjalananmu kali ini tidak akan sia-sia. Niatkan belajar. Belajar apapun lakukan dengan baik dan ikhlas. Tuhan sedang membimbingmu, memberikan perjalanan yang diluar dugaanmu tetapi baik untukmu. Percayalah Dia Sang Maha Pendengar dan Pemberi Jalan Terbaik.


11 Februari 2018

Ketimpangan

Halo, graduation tinggal beberapa hari lagi. Terus sekarang kamu ngapain? Nunggu hahaha. Santai sejenak. Mau cerita sesuatu. Agak random. Beberapa hari mengurung diri di kamar berselancar di internet menyusun strategi ke depan. Cukup membuat pusing tetapi di sisi lain ada hal kecil yang aku alami di masa pengurungan diri ini.

Kamarku terletak di rumah bagian belakang yang tepat setelah tembok kamarku itu ada rumah sederhana dari keluarga sederhana atau bisa dibilang keluarga dengan berpenghasilan rendah. Bapak, Ibu, Anak Lanang baru saja lulus STM, Anak perempuan masih SMA, dan yang paling kecil anak laki-laki umur 3 tahun. Kalau kalian tau yang namanya ‘Stunting’ ? ya anak terakhir itu termasuk dalam golongan Stunting. Ada beberapa percakapan yang tak sengaja aku dengarkan. Seperti:

‘Arep jaluk apa? Iwak pitik larang, lele larang, wes mangan sak anane, golek dhuwit ki susah.’

‘Jaluk mie ayam dhuwite sopo.’

Percakapan itu aku dengarkan saat diriku asyik berselancar di internet, saat merasa pintar dan mengangguk-angguk takzim menikmati isu-isu terkini, bacaan-bacaan berat dan secara entah itu utopis atau tidak seakan akan ingin ikut mengubah dunia saja.

Ibu di keluarga kecil itu galak sekali. Galak sekali. Suka memarahi anak-anaknya. Ya aku bisa memaklumi sih. Menghadapi harga pasar yang semakin mencekik tentu bukan suatu hal yang mudah untuknya dan dibalik itu semua aku paham hal tersebut juga demi anak-anaknya agar menjadi tangguh di masa depan.

Kemarahan itu sering aku dengarkan saat diriku asyik membaca thread tentang mengajari anak attitude yang baik bagaimana, harus ini itu seterusnya like a very normal people and family seperti yang dikatakan netizen-netizen di twitter tersebut. Dan ku kembali mengangguk-angguk takzim membacanya, berangan-angan seakan besok saat ku punya anak akan mengajarkan hal tersebut juga. 
Setelah aku menutup laptop dan internetku, terus aku berfikir, kenapa jadi semakin mengkotak-kotak gini ya, ga mengkotak sih tapi mungkin timpang. Tapi sejauh dan sedalam ini timpangnya? Aku tidak akan mengatakan bahwa internet benar dan real life yang salah dan perlu diubah. Aku kadang mikir sesungguhnya sudahlah kamu tidak usah banyak cakap dan teori. Respect terhadap sesama aja. Be adaptif dalam berbagai golongan. Salah satu cara adaptasi yang masih aku pegang sampai sekarang adalah jangan pernah merendahkan atau meremehkan orang lain, jangan pernah memberi status kepada mereka atau kepada dirimu sendiri. Karena semua sama, hargai dengan kesopanan yang sama. Ramahi dengan kesantunan yang sama. Suatu saat mungkin aku akan mengajarkan anak-anakku tentang attitude yang baik tetapi mungkin aku akan lebih menekankan pada toleransi, menghargai, dan being kind. Bahwa kita hidup bersama-sama kalaupun secara finansial kita lebih bisa jadi karena memang usaha memang privilege kita. Tidak ada suatu hal yang normal senormalnya, semua tergantung lingkungan masing-masing, tetapi kebaikan akan selalu ada tempat.   

Ada satu percakapan yang aku suka dan membuatku agak tersadar, baru terjadi beberapa hari yang lalu antara aku dan Mbak Mar. Waktu itu setelah aku mengurus dan mendaftar wisuda kemudian sorenya langsung ke Jakarta ngurus keponakan-keponakan. Mbak Mar, nanny nya keponakan Jakarta (Dea kelas 5 SD dan Dinda kelas 4 SD) mengajakku pergi jalan ke Mall terdekat untuk menemaninya beli baju dan biar sekalian nanti jemput Dea Dinda di sekolah. Saat akan pulang Mbak Mar ngajak beli es krim mcflurry tapi aku gamau karena lagi diet (wkwk) tapi yang pada akhirnya aku minta juga. dan mintanya pun banyak lebih tepatnya nyomot.

‘Mbak minta ya, hehehe’

‘Katanya diet, yaudah nih Mbak Hanum,’ tidak memperhatikan karena sedang mainan hape pesen grab taxi.

Aku ambilnya kan pake sendok aja ya. Terus enak banget kan, nambah lagi.  

‘mbak aku minta banyak ya hahahahaha’

‘hmmmm..’ sambil masih megang hape.

Terus pas nunggu Bapak Grab sambil terus aku minta es krim, Mbak Mar bilang

‘Aku seneng Mbak Hanum kayak gini’

‘nyam nyam hhmm apa? Maksutnya?’ sambil makan es krim

‘ya Cuma mbak Hanum dari saudara-saudaranya Bapak Ibu yang ga ngeliat aku itu rendah sebagai pembantu.’ (Bapak Ibu= Mas Mbak ku yang memperkerjakan mbak Mar)

‘hah? Maksutnya?’

‘Ya kayak gini mbak Hanum biasa aja minta eskrim ke aku, ga jaim ga ada jarak kayak temen biasa malah. Terus kalau di rumah mbak Hanum suka bantuin aku, bangun tidur pasti kamar udah bersih, bantu nyuci piring dan biasa aja. Ga marah ga apa, Mbah uti Bantul juga. Makanya aku selalu suka kalau mbak Hanum atau Mbah Uti Bantul ke Jakarta, pasti jajan dikasih duit dibantuin bersih-bersih rumah. Bahkan mbak Hanum mau ngerokin aku hahaha.’ (Mbah Uti Bantul=Ibuku)

Terus aku tertegun. Speechless.  Ga makan eskrim lagi. Terus aku nanya.

‘lah emg kenapa mbak?’

‘ya beda kan, kan biasanya pembantu dianggap rendah, temen-temenku aja kalau aku ceritain ttg mbak Hanum sma Mbah Uti Bantul pada ga percaya karena mereka ga pernah ngalami seperti itu.’

‘ooooh…biasa aja mbak aku mah hahahah yaudah tu mobilnya dah dateng.’


Di sore itu, saat luar hujan deras tetapi aku merasa hatiku hangat tiba-tiba dan aku semakin percaya bahwa aku masih baik dan dalam keadaan baik-baik saja walaupun mungkin beberapa hari ini yang aku baca atau sekitarku banyak yang tidak mengenakkan untuk dilihat dan dipahami berbagai berita negatif. Itu tidak membuatku berhenti untuk menjadi seorang Hanum yang aku inginkan. 'Sudahlah jalani dan pikirkan dengan simpel, beri hati dan jiwamu dengan kebaikan yang simpel-simpel' kataku pada diri sendiri. 

23 Januari 2018

Dear 21, Welcome 22.

Dear 21,

Hey, aku sudah lama ingin menuliskanmu disini yang biasanya hanya berhenti sampai di pikiran saja. Aku tau kamu masih lelah sekarang, ingin menghibur diri sejenak tetapi ternyata waktu berkata lain. Kamu harus segera melanjutkan perjalanan bahkan dengan laju yang lebih cepat dari sebelumnya karena mungkin kamu sudah ditunggu atau sudah ditinggal.

Hey, aku bangga padamu. Terimakasih sudah sampai di garis finish bertahan menghadapi kehidupan yang roller-coasternya tak biasa dari umur-umur sebelumnya.

Aku masih ingat di 1 Januarimu tahun lalu. Malam itu kamu membuat daftar mimpi/resolusi yang membutuhkan kerja ekstra tetapi aku tau kamu orangnya ngotot kalau udah niat, apapun akan dikerjakan. Kemudian di awal perjalanan kehidupan mengujimu, Ayahmu kembali jatuh sakit, hampir setiap bulan masuk rumah sakit setiap opname 2 minggu lebih. Bolak-balik 3 rumah sakit 2 pasien, karena ibumu juga sempat sakit waktu itu. Kamu sampai hafal semua administrasi dan apa saja yang perlu dilakukan saat-saat genting. Awal-awal kamu mulai mengeluh, berpikir hidup tidak adil, bertanya kenapa harus menjadi anak terakhir, kenapa ini itu dan sebagainya. Kamu marah dan kesal, beberapa bulan pengerjaan skripsimu teralihkan, tetapi pada akhirnya aku senang kamu bisa ikhlas, bahkan kamu merasa tambah bersyukur atas kehidupanmu sekarang. 

Saat itu kamu juga baru sadar tugas akhirmu dibimbing oleh dosen yang terkenal sangat sangat sangat perfeksionis. Malah kamu juga menawarkan diri menjadi asisten beliau. Hadeeh. Bolak-balik survey sana sini ambil sampel berkali-kali memenuhi keperfeksionisan dosen pembimbing, membentuk mental inisiatif dan jiwa service yang tinggi, menaikkan standar pengerjaan. Aku tau kamu tertekan berkali-kali bahkan kamu merasa sampai hampir stress beneran. Partner TA kamu saja sampai bilang: ‘aku aja sampai stress nangis apalagi kamu Num’. Segala macam drama sudah kamu lalui, ke rumah beliau saat hujan malam-malam demi mengejar target sudah kamu lakukan berkali-kali. Untung kamu ikhlas, tegar di depan ibunya dan akhirnya kamu bisa melaluinya. Alhamdulillah di ACC lembar pengesahan malam itu hujan deras sekali di rumah beliau tepat pada hari ulang tahunmu. Untung kamu tidak manja, mau bertahan, mau melakukan, mau tidak menunggu besok paginya. Kenyataanya memang beliau menekanmu sampai batas paling limit dan kamu sadar bahwa ternyata batas limitmu masih jauh. Dan juga sadar betapa kamu memang butuh pembentukan mental seperti itu karena ternyata mimpi dan kehidupan ke depan masih butuh usaha yang lebih dibanding pengerjaan skripsi ini. Ingat kan pertama kali kamu meminta ibunya untuk menjadi dosen pembimbingmu? Yang kamu ucapkan pertama kamu ingin lanjut kuliah di bidang urban sanitation. Aku bahkan sampai sekarang masih tidak percaya sepolos itu kamu berani langsung mengutarakan maksut kepada ibunya. Yang akhirnya sekarang malah Bu Saras menjadi seorang dosen pembimbing, mentor, dan juga inspirasi untukmu :)

Selain 2 perkara di atas, kamu waktu itu juga bekerja keras terhadap resolusimu. Betapa besarnya resolusi itu bagimu, terlihat dari usaha yang begitu kerasnya. Bahkan kamu selalu menyela-nyela belajar di kala kamu menunggu dan mengurus Ayahmu, mengatur strategi dan jadwal begitu rapi yang pada akhirnya berantakan tetapi aku kagum kamu masih tetap setia berusaha. Saat kamu flu berat, saat sangat kelelahan, saat hujan, dan jarak yang jauuh sekalipun kamu tetap berangkat dengan semangat untuk belajar dan tes menguji kemampuanmu, sering, tidak ada orang yang tau kamu sedang mengusahakan sesuatu. Yang pada akhirnya di minggu pertama bulan Ramadhan, kamu membuktikannya, Allah memberikanmu hadiah terindah dari kerja kerasmu itu. 2 kado bahkan. Alhamdulillah. Dan kamu beneran berangkat ke dua negara asing yang belum pernah kamu datangi itu! Yang kamu akhirnya bisa bertahan melalui semuanya dengan prinsip ‘work hard and play harder’, menghadapi dunia baru, tempat baru, orang-orang baru, pun disana kamu masih ditekan berkali-kali wkwkw. walaupun begitu aku senang pikiran dan cara pandangmu menjadi lebih lebih luaaas lagi. 

Oiya bahkan kamu sering shock dan hampir mau pingsan di Denmark waktu itu saat kamu tau background peserta, speaker, fasilitator, investor atau siapapun disana yang kamu sangat familiaaar sekali dengan nama-nama instansi, universitas, organisasi internasional, perusahaan multinasional, yang bahkan mereka adalah orang-orang pentingnya disana. Aku masih ingat sekali ekspresi shockmu berkali-kali itu, betapa Allah Maha Pemberi Skenario terbaik, Pendengar mimpi-mimpi. Ingat sekali dulu saking kamu ngerasa kecilnya tetapi mimpimu begitu besar, kamu hanya tulis, ucapkan dalam hati, dan kamu gumamkan saja, bahkan kamu hapus dari bucket list dream karena mikir saking impossiblenya :’)

Sebelum kamu pulang pun, kamu masih diberi hadiah oleh Allah, yang membuatmu nyanyi keras-keras sendirian sepanjang jalan wkwkw! Saking gataunya mau diekspresikan gimana akhirnya cuma nyanyi lagunya Spongebob Squarepants-It's the Best Day Ever :

’It’s the Best Day Everr! Best day ever… 
It’s the Best Day Everr! Best day ever…’ 

Cuma itu doang liriknya sambil jalan-jalan di sepanjang Stroget, Copenhagen Denmark menuju ke Nyhavn. Seriously dari City Hall sampe Nyhavn jalan kaki betapa seketika merasa sehat! Norak tapi bodo amat! XD 
Tapi itu emang menyenangkaaaan sekali bahagiaaa banget rasanya, bener-bener the best daaaay eveeerrr! wkwkw. Hari terakhir mau pulang setelah tekanan yang menguras otak dan mental seminggu penuh terus dikasih hadiah yang tak terduga-duga. Baik banget Allah, Alhamdulillah :’’’’) oiya iniii Spongebob Squarepants Episode It’s The Best Day Ever buat yang penasaran wkwkw. 

Terakhir.

Aku ingin berterimakasih padamu.

Terimakasih sudah sampai sejauh ini.. 
Terimakasih sudah mau melawan..
Terimakasih sudah mau percaya..
Terimakasih untuk tidak menyerah..
Terimakasih untuk tetap bertahan..
Terimakasih untuk tetap sabar..
Terimakasih untuk tetap ikhlas..
Terimakasih untuk tetap baik.. 

Dari semua hal yang sudah aku dapatkan, aku sangat bersyukur diberikan lingkungan keluarga yang baik, mendukung, sabar, perhatian, begitu juga dengan teman-teman yang selalu ada disaat-saat titik terendah yang selalu menghibur, yang selalu baik. Hal besar yang aku pelajari di 21 tahunku. Aku sangat bersyukur mempunyai mereka disekelilingku.

Alhamdulillah, Allah seperti apa yang hambaNya prasangkakan. 
Ke depan aku ingin kamu semakin kuat, sabar, sekaligus ikhlas. 

Sincerely, 

Your Heart.

PS: So, Welcome 22! :)




23 Desember 2017

OKELAH

Note: ini tulisan random banget, serandom-randomnya, setelah berhasil daftar seminar, meluluhkan hati bu saras, 2 minggu yang penuh tekanan lebih dari berbulan-bulan tekanan sebelumnya, minggu di titik-titik terendah, ga lebay, beneran, partner TA ku yang sudah wisuda aja bilang: aku aja sestress itu kmaren num apalagi kamu. dan ternyata emang bener iya :') tapi Alhamdulillah Allah Maha Penyelamat dan Pelindung, Allah hanya ingin Hanum tau batas limitnya ternyata masih jauh.....

Soooo....
Mau bersyukur
Alhamdulillaaaaaaah udah mau seminar semoga kekejar wisuda februari aamiin...
Alhamdulillaaaaaaah cumlaude.....
Alhamdulillaaaaaaah yah cepet banget fase hidup......
Alhamdulillaaaaaaah udah mau 22 tahun astaga......
Alhamdulillaaaaaaah mau kurus badan tahun depan......
Alhamdulillaaaaaaah antara ga sabar atau takut......
Alhamdulillaaaaaaah ya ampun aku udah dewasa........
Alhamdulillaaaaaaah selepas lulus ingin ini itu sudah terencana.......
Alhamdulillaaaaaaah di 21 tahun ini banyak banget pelajaran hidup.......
Alhamdulillaaaaaaah orangtua semakin sehat......
Alhamdulillaaaaaaah udah harus mandiri astaga......
Alhamdulillaaaaaaah banyak yang nawarin kemudahan untuk jalan kedepan........

Apalagi yaaah.......
Alhamdulillaaaaaaah kok bisa ya secepat ini..........
Alhamdulillaaaaaaah kedepan jangan kasih kendor lagi ya Hanum :)

Mau nulis lagi..........
biar ga kendor.............
Punya mimpi ga? punya kan pasti?
dari semua mimpi-mimpi itu ada yang bikin seneng banget pengen dicapai gasih?
yang amusement?
punya dongggg! mau list!

  1. ke Chengdu, China. Pusat konservasi Panda! Mau megang Panda Cub! hugging cuddling! Snowleopard juga! astaga! :') 
  2. ke Masai Mara, African. Big Cats! Elephants! 
  3. ke Alaskan National Park! ngapain? Brown Bear of course! yaampun aku akan ke semua tempat yang pernah diliput Disney Nature! 
  4. ke Moscow, Russia. bertemu Hosico Cat! whahahahaha :))) 
  5. Nonton konser Coldplay di Eropa!!! John Mayer! Ed Sheeran!
  6. Mau ke tempat-tempat iniiii bersama yang terkasih #uhuk
  • Aarhus, Denmark, so sweet banget street cafenya sepi kalem tapi romantis huhu ku taq quat mau kesana lagi :')
  • Dublin and Dingle, Ireland, mau tracking lokasi shootnya film 'Leap Year' wkwkw 
  • Cappadocia, Turkey. mau naik balon udara besar warna-warni itu di kala senja.  
  • Switzerland, gamau cuma transit aja doang haha
  • yang lainnya terserah mau kemana asal ga terlalu crowded aja, lebih suka jalan-jalan di street art cafe-cafe lucu menyenangkan kalem gitu terus ke museum, theatre, canal tour, yeaah! \:D/

10 November 2017

Si Asing dan Pencerita

10 November 2017

Entah kenapa akhir-akhir ini sedang suka mendengarkan lagunya Payung Teduh-Untuk Perempuan Yang Sedang di Pelukan, sedang berusaha membuat diri tenang dan kalem. Entah kenapa juga sedang mencari ketenangan hati dan jiwa. Apa yang sedang dicari sebenarnya?

Mungkin lelah pikiran, memendamnya sendiri, berusaha terlihat kuat, nyatanya dari dalam sedang memerangi prasangka buruk yang dibuat oleh diri. Terkadang hanya ingin tenang tanpa beban tanpa pikiran tanpa stereotype tanpa apapun, hanya menikmatimu, senjaku, bersama kopi mungkin(?). 

Betapa menenangkan hidup tak terburu oleh dunia dan waktu. Bertemu denganmu yang asing, yang tanpa perkenalan pun menghasilkan makna dalam nan asik untuk diramu bersama diiringi celotehan nan lucu menertawakan pikiran dan makna kehidupan.

Berlanjut sepanjang malam penuh dialektika tanpa jeda, memadukan frasa menggalakkan cerita, saling bersahutan menentang paham, yang melebur di akhirnya malam, bersama menciptakan impresi penuh arti, mengimaji untuk hidup yang lebih berarti.

Berjalan bersama menuju ufuk pagi yang terang, menangkap serpihan-serpihan nyala ibukota malam. Menjajaki jalan-jalan setapak, menjamah sudut-sudut pemukiman urban, mengabadikan momen di balik ruangan, menarasikan lakon-lakon sandiwara kehidupan.

Sampai akhir, pada ujung perjalanan, titik pergantian malam dan fajar, mengemas kesimpulan dan cerminan masa depan, mensyukuri titik-titik parsial kehidupan.


(bersambung)

8 November 2017

Satu Jam Perjalanan

Sudah terhitung lebih dari setengah tahun aku tidak melihatmu seperti dulu. Sudah lebih dari setengah tahun aku tidak melihatmu bahagia penuh antusias mengabdikan dirimu untuk suatu keikhlasan dan ketulusan. Sepertinya ada sesuatu yang hilang dari dirimu?

Dalam pulangmu setiap malam satu jam perjalanan jauhnya, kamu tidak lagi berbicara padaku tentang kontempelasi kehidupan. Pikiranmu yang dalam dan bermakna dari hari-hari yang kamu jalani. Yang dulu kamu sering lakukan yang sampai rumah kemudian kamu menuliskannya dan mencari cara untuk membantu menyelesaikannya. Yang kamu tuliskan di buku kesukaanmu itu, aku suka nama bukunya: 
Buku Ide/Kontribusi 

Dalam pulangmu setiap malam, aku juga tidak mendengar lagi hatimu sedih saat melihat orang-orang malam itu mengayuh becaknya tanpa ada penumpang di depannya, mendengarmu menggerutu di sepanjang jalan bagaimana cara membantunya, atau keinginanmu agar bisa menjadi penumpang terakhir mereka setidaknya. 

Aku tidak melihat lagi tangan kananmu bersembunyi memberi di antara malam pulangmu kepada mereka orang-orang berpeluh dengan keranjang di depan yang masih penuh, dengan pakaian yang lusuh. Di antara hujan deras kamu dulu sering melihatnya masih dengan bunga-bunga yang belum satupun terjual. Atau melihat yang lain, di tepi jalan dia duduk menekuri keranjang-keranjangnya tidak ada satupun yang berminat, dan saat kamu mendekat terlihat mata yang sangat kelelahan. Aku tidak melihat lagi matamu basah akan kejadian-kejadian itu walaupun dulu malah justru kamu sering mencarinya. 

Aku tidak melihat lagi antusiasme atau sekedar sapaan ramah saat kamu pergi ke pasar, kamu dipanggil sama ibu-ibunya tetapi kamu menjawab sekenanya. Aku tidak melihat lagi tertawa bahagiamu bersama mereka simbah-simbah atau bapak ibu saat kamu mengantar ayahmu kontrol rutin di rumah sakit, karena kamu tidak ikut pergi kesana sekarang. Bahkan, untuk hal yang paling kecil saja aku tidak melihat lagi kamu menonton video favoritmu, kamu bahkan sudah tidak berminat untuk pergi ke Larantuka bertemu Mama Mia, ibu inspirasi Kopernik. 

Ada apa denganmu? 

Aku juga tidak mendengar lagi syukur yang sering kamu sematkan dalam perjalanan satu jammu itu. Syukur akan hidupmu yang ternyata begitu nyaman, yang kamu menyadari bahwa saat ternyaman menjalani semua aktivitasmu masih ada yang berjuang keras hanya untuk makan layak. Dan aku selalu suka kesimpulan dari akhir perjalanan, saat kamu sering berjanji untuk menjalani hari-harimu kedepan sebaik mungkin atas wujud kebersyukuran itu. 

Aku tidak mendengar lagi ajakanmu ke tempat yang sering kamu kunjungi saat penat. Desa yang telah menjadi abdianmu dulu selama setengah tahun. Yang saat kesana di sepanjang jalan tak henti-hentinya kamu bahagia karena merasakan curam naik turunnya jalan tersebut. Tapi aku tau bahagiamu tidak sekedar itu, bahagiamu menemukan tempatmu kembali, menghilang dari rutinitas sejenak, sapaan ramah masyarakat, kelucuan anak-anak.

Apakabar mereka? 
Apakabar kamu?
Kamu kemana selama ini? 

Aku sedih melihatmu akhir-akhir ini, kamu sering takut, terburu-buru, cuek sekali dengan sekitar, pikiranmu penat, kegiatanmu banyak, keinginanmu banyak, egois sekali kamu akhir-akhir ini dengan dirimu sendiri. Kamu mengatur diri terlalu keras, satu jam perjalananmu lebih cepat sekarang karena kamu ingin segera pulang dan menyelesaikan semua. Satu jam perjalananmu hanya diam, atau malah marah, kesal dengan hari yang baru saja kamu jalani. Aku tidak tau ini memang sudah waktunya atau hanya sekedar fase yang harus dijalani sebentar. Tetapi aku rindu, aku rindu sekali dengan salah satu bagianmu yang dulu. 

Hatimu kering.....inginku melunakkannya.

31 Oktober 2017

Being a Woman Engineer

Last night I worked on essays about Women Engineer. Actually, I applied a forum called Women Engineer Unilever Leadership Forum for Indonesian organized by Unilever x WomEng.org  I found this information from Line Group and I feel that I capable to be one of the candidates and why not to try? It doesn't matter if I am not selected, I just like the questions they're given in the application form and I want to repost my application form here. So you can read my opinion about being Woman Engineer as well. Okay thank you, happy reading! :)

Why did you choose to study an engineering-related degree ?


I love math and science especially physics when I was in high school. So that, I was looking for a study that provides me into the practical field and also feeds my curiosity to understand how things work in scientific ways. I am an avid reader and a dreamer, but at the same time I love the security and clarity of science. My parents wanted me to take medicine at the beginning, but I knew that I was not into it. So I decided to choose taking an engineering degree.

Engineering is the field that solves the most impactful of our problems in the world and has the direct impact to the communities, like creating clean energy, detecting cancer, building bridges and so on. I enjoy seeing the first-hand what the engineers are doing, seeing the particular part is going to be used in a space, that one is going to be used to bring clean water to people in the density of desert areas. They are constantly changing the world with inventions and solutions that affect everyone’s lives. Engineers are like the wizards of our society, everyone wants them to fix their problems, and no one is quite sure how they came up with the solution.

I thought that being an engineer is fun because I get to use magic to create things every day. Civil engineering is the best choice for me and it gave me many satisfactions. I realize that this field builds something for people to use for years to come. And when you’re really engrossed in something which you know will make a huge difference to hundreds of thousands of people’s lives for many years to come, I think going off to study can never be anything less than exciting. 


Please describe your future career aspirations and your ideal employer.

I really passionate to do volunteering, almost in my whole-life-college is filled by voluntary activities. And in my way to do that, I've seen many problems in basic human needs that I believe I can provide the solutions which concern towards the problems of clean water and sanitation. Problems ranging from the processing of water resources to the problems of the household wastewater disposal. According to the United Nations, 63 million Indonesian people do not have an access to toilet so they still doing open defecation (BAB) in rivers, lake, and even sea. 

I think this is an important issue that needs to be resolved because it relates to the basic needs and healthy living. One of the personal reasons is I want to learn that the goodwill and having concern is not enough, I need to develop my self further in terms of science, intellectual power, and mastery of technology so that I can implement in an optimal contribution. I want to be a part of solutions in the field of clean water and sanitation problems in my country. I hope that one day I can see Indonesia public health increasing and no more children who are sick with pneumonia or diarrhea just because of the difficulty of access to clean water and sanitation.

My ideal employer is the one who values women engineers in the workplace, it’s mean that they also have a voice and want to feel heard and respected. Bringing women into the workforce is not just about plugging the skills gap. It’s about bringing a more diverse workforce where people can be confident expressing their ideas. It’s about how a more diverse workforce equals a more productive one. 

And also there is an emphasis on work-life-balance, women engineers tend to work hard and willing to put in the hours necessary to achieve the company goals but they do have a family too. I think that they are happier in a work environment where they can work hard, be rewarded and also have the flexible hours to have a life outside of the office. It is my belief that when woman work in an environment that allows them to feel valued, work hard yet have balance and offers opportunities to advance, they can represent the significant competitive advantage.  


Why would you like to participate in the WomEng-Unilever Leadership Program ?

I want to be a part of a movement toward equality and opportunity for women in engineering. A leadership program that provides the resources I need whether I am beginning, resuming, or building my future career. I want to broaden my network, meet as many people as I can who have similar passion in the field of engineering and technology. So that we can share our visions and our missions to make a difference in society. Facing the global issues with the kind of new board-minded, diversity of perspective, and creative solutions also collaborate and make the better world in terms of technology.

And also I want to see by myself that by having more woman an engineering and technology industry will have the stronger community, make more varied, innovative, and gender inclusive products and better serve our world as a hope.


What would you like to learn the most during the WomEng-Unilever Leadership Program?

I want to learn more about practical problems in real life as women engineer with the mentors. Because I know that my university prepares more for the technical challenge than it does the realities of performing at real work I guess.

I want to learn with the mentors about the necessary life and business skills to succeed in the industries, and also how to think through the technical challenge in the field of engineering in real projects. With the diverse background of the field of engineering, I want to know about the facing problems, solutions, and innovations in another field engineering.

okay, soo... are you a woman/female/girl engineer? please share your opinion too :)
These are some TEDxTalks video about the story become a female engineer, really cool! 

Andrea Gonzales, a girl who has a background in computer science build community called Girls Who Codes, and in 17 years old she created a game called Tampon Run, Through Tampon Run and women in the game industry, this girl wants to help us understand that women are ignored as users and creators of technology, and why.




Morgan DiCarlo is an undergraduate Civil Engineering student with a Business Management minor in the Women in Science and Engineering (WISE) Program at Stony Brook University. It is her dream to apply science and math principles to solve global water problems.




Iowa State University Computer Science major Cassidy Williams was often the only girl in the room. She shares her story of pursuing her passion as a model for encouraging women in STEM.




Debbie Sterling is an engineer and founder of GoldieBlox, a toy company out to inspire the next generation of female engineers. She has made it her mission in life to tackle the gender gap in science, technology, engineering and math. She create an engineering toy for girls called GoldieBox



and the one who have a background as woman mechanical engineer pursue her passion in racing and engineering and become a technical engineer at FORMULA SEA team and allowing her to become only the second female Team Lead in the team's 25 year history.. so coool!



15 Oktober 2017

oh this is life

jangan pernah menjadikan dirimu atau merasakan dirimu berada dalam bayang-bayang siapapun, status apapun, instansi apapun. jangan pernah membuat atau merasa dirimu seperti itu. jangan pernah. baik itu di ranah besar maupun kecil sekecil apapun. karena apa? kamu harus berjalan di atas badanmu sendiri, kamu adalah karakter, integritas, value, dan sifat yang kamu bangun, yang kamu ciptakan, yang kamu lakukan sehari-harinya, habit yang selalu kamu jaga. bukan apa yang melekat pada diri kamu. that's not define yourself.


Mari menghidupkan mimpi-mimpi itu lagi :)