14 Juni 2017

Mobilmu dan Jalan Raya Kita

Perjalanan tadi saat berangkat melihat ada mobil mewah melintas didepanku untuk menyeberang. Mobil mewah yang tentu menunjukkan kebermampuan pemilik mobil tersebut. Sesaat aku berpikir: menyenangkan sekali jika aku punya mobil seperti itu? tentu hidupku akan lebih nyaman, kemanapun aku pergi tubuhku terlindungi dari sengatan matahari, ber-AC pula.

Tetapi kemudian di tepi jalan lain aku melihat becak itu sedang ditiduri oleh pemiliknya. Sejenak angan-angan mobil mewah itu kabur remang-remang dan berganti pada pikiran: 'kasian bapaknya masih setia dengan pekerjaannya yang bahkan sudah tergerus oleh jaman yang serba mudah ini.' Kemudian ku jalankan motor lagi, selama perjalanan aku berpikir. Ternyata gap orang kaya dengan orang miskin di Indonesia itu bener-bener jauh, jauh sekali, dan bertambah lebar. Apakah itu suatu permasalahan? Bisa sih dibilang permasalahan tetapi bisa juga tidak karena hal ini menyangkut urusan personal yaitu pendapatan. Dan itu adalah suatu hak yang dimiliki oleh masing-masing personal tersebut. Jadi ngapain dipermasalahin? Tetapi aku tidak ingin menyoroti tentang itu. Gaya hidup bolehlah memilih masing-masing tetapi aku ingin lebih menyoroti kepada fasilitas publik yang digunakan bersama yaitu jalan raya. 

Pola pikir sederhana yang terjadi di Indonesia adalah seperti ini orang berusaha untuk menjadi kaya, mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, dan menjadi bahagia dengan apapun yang bisa dibeli atau didapatkan. Sudah selesai. Banyak orang berpikir gaya hidup seperti itu yang nyaman dan menyenangkan. Tetapi kemudian aku berpikir, is it matter? apa itu suatu keharusan? Maksutku cobalah lihat. Saat kamu keluar rumah dengan mobil mewahmu dengan AC yang menyala mendinginkan tubuhmu membuatmu nyaman tanpa keringat. Sesampainya di jalan raya besar kamu menghadapi kemacetan yang panjang. Ingat saat kamu keluar dengan mobilmu dan kemudian menapaki jalan raya saat itulah kamu menggunakan fasilitas publik. Ingat fasilitas publik. Paham kan publik itu artinya apa?

Kenapa ya orang lebih mempermasalahkan oke aku naik mobil ke tempat kerja biar lebih nyaman, aman, mudah, dan gengsi(?) daripada mempermasalahkan kalau aku naik mobil sementara cuma aku doang penumpangnya kenapa aku ga naik angkutan umum saja ya atau motor mungkin agar space di jalan raya yang fasilitas publik itu bisa lebih luas dan digunakan oleh yang lain? atau yaudah aku mau naik angkutan umum saja biar ga nambah macet terus kalau harus jalan kaki pun akan mengurangi polusi membakar kalori? 

Paham ga maksutku kenapa orang itu matter sama aku beli mobil naik mobil mewah nyaman nih? It's okaay It's okaay. tetapi coba berpikir lagi ada yang lebih matter daripada itu..
Disaat penduduk di negara-negara maju sudah sadar dengan pemahaman fasilitas publik dan kepemilikan barang personal, dan negara-negara tersebut sudah menerapkan banyak sekali teknologi angkutan masal, bahkan sekarang mulai digalakan dengan bahan bakar renewable energy sementara di sini masih mendebatkan: aku mau naik mobil aja panas di luar, toh aku beli sendiri mobilnya...sementara saat dia keluar dan mengemudikan mobilnya, dia menggunakan fasilitas publik: jalan raya. 
terus ada yang bilang: lah aku udah bayar pajak loh
semua orang juga bayar pajak kali.

Sedih sih kadang saat pengemudi mobil mewah lebih di-appreciate 'wah'nya ketimbang orang-orang setia pengguna angkutan umum. Sedih saat orang lebih matter pada urusan personal padahal dia sedang menggunakan fasilitas publik. Sedih juga saat mendapati di kampus sendiri mobil bertebaran dimana saja, termasuk dosen-dosenku juga yang hanya satu penumpang per mobil. Padahal kita belajar sampai larut untuk belajar tentang transportasi, angkutan masal dan perhitungannya pula. 

banyak kok di Indonesia yang masalah remeh lebih penting atau matter dibanding masalah-masalah krusial dan vital untuk kepentingan bersama. atau mendebatkan yang lain, yang sangat tidak lebih penting dan seharusnya sangat tidak perlu untuk diungkit-ungkit secara terus menerus. banyak kan? lagi ngetren malah...hmmmmmmm.....yaudah gapapa namanya juga masyarakat berkembang, sedang berproses. optimis aja :)

   

21 Mei 2017

Random eps.2

Aku orangnya kalau youtube-an suka random. Random banget. Tapi random pada satu jenis topik video yang bisa bikin aku terenyuh, atau kayak 'awww so cute' 'full of kindness' 'what kind of meaningful story'. pokoknya video yang bisa bikin aku kalau nonton itu kayak huhu terharu sekali please. terharu yang bahagia gitu sesuatu yang merecharge sisi humanis dan feminisku. Kalau ga video yang sejenis biasanya video goodnews. Nah padahal video-video kayak gitu susah juga dapetnya atau random munculnya. tiba-tiba ada di home facebook, di timeline twitter, kadang muncul sendiri atau kepikiran cari keyword yang pas di youtube apa yaa. Salah satu keyword yang sering aku tulis di youtube in my spare time gegoleran gitu satu sih yang paling sering yaitu: 'Pregnancy Announcement' ya ini benar. benar sekali. Aku sampe bisa ngabisin waktu berjam-jam cuma nonton Pregnancy Announcement Compilation dari #1 sampai #9 wkwk dan gabosen-bosen. Iya beneran. HAHAHA. aku sendiri juga gapercaya kok bisa :'''
Setiap nonton itu emosinya kayak bisa kerasa banget..aku gapaham sih aku yang lebay atau gimana tapi aku ngerasa ikut larut dalam surprise goodnews itu. Coba deh nonton! tapi awas! it's a trap!

 

20 Mei 2017

Day 6: Menikah dan Berumah Tangga

Hai readers maafkan Hanum ya Day 6 dan 7 nya ke skip dua minggu huhu maaf. tetapi rencananya memang launching #7daysQuranChallenge-nya saya publish seminggu sebelum ramadhan :) Sehingga saya berharap hari-hari kemudian bisa lanjut Quran Challengenya selama bulan Ramadhan dan temen-temen bisa mulai ikutan #OneDayOneHadist atau #OneDayOneIslamicStory atau #OneDayOneDua and etc. Yuk temen-temen mari kita sama-sama meningkatkan semangat iman dan taqwa kita di Bulan yang penuh Keberkahan, menjemput pahala-pahala yang bertebaran dan juga menebarkan kebaikan-kebaikan di Bulan Suci ini :)

Di post kali ini saya akan membahas tentang....jeng jeng... Pernikahan... ya benar. Setelah kemarin dua minggu yang lalu teman saya, Zahratul Iftikar melangsungkan pernikahannya dengan Khoirul Fahmi, saya menjadi tertarik untuk membahas tentang pernikahan ini menurut buku yang saya baca lagi dari M.Quraish Shihab berjudul Perempuan. Temen-temen kalau mau diskusi monggo banget karena memang saya ilmunya juga masih sangat sedikit. Yuk saling belajar menjemput fitrahNya! :)

Post ini akan sangat panjang sepertinya selain karena babnya paling panjang juga karena bab ini paling menarik menurut saya hehehe :)



'Segala sesuatu telah Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat (kebesaran Allah)' (QS. adz-Dzariyat:49)

12 Mei 2017

Project Child Indonesia: Be a Volunteer of Drinking Water Program



Jadi semester ini saya menjadi volunteer di sebuah NGO lokal Yogyakarta namanya Project Child Indonesia (http://volunteer.projectchild.ngo) yaitu sebuah NGO yang fokus geraknya dalam hal kesehatan, lingkungan bersih dan hidup sehat bagi anak-anak Indonesia.
The vision of Project Child is for every child in Indonesia to have the opportunity to learn, to have a healthy start, and to feel supported and secure living in a clean environment that is prepared for natural disasters.
Ada beberapa program yang ditawarkan oleh Project Child Indonesia dalam kegiatan volunteernya. Yang saya ikuti namanya Drinking Water Program. DWP adalah sebuah project dimana PCI mem-provide access to healthy drinking water yang baik untuk diminum langsung di beberapa sekolah binaan PCI.

9 Mei 2017

In Between

ini post purely my personal opinion, sharing insight dari apa yang aku alami beberapa tahun belakang ini, terutama dalam kehidupan kampus hehe, enjoy it, and let's discuss, sangat open dengan opini kalian juga :)

Baru kenal istilah ini beberapa hari yang lalu. Jadi secara awam in between itu sebutan golongan orang-orang antara. Antara si agamis dengan si duniawi, antara akademisi dengan si titip absen setiap hari,  antara si sederhana dengan si sosialita, antara yang suka nongki-nongki dengan yang kuliah-pulang-kuliah pulang, antara yang sibuk kemana-mana rapat dengan yang selonya kebangetan, antara yang si aktivis kontributif dengan yang lurus-lurus aja, dan antara-antara yang lainnya. Aku ga ngejudge salah satu golongan mereka adalah golongan baik dan yang satunya golongan buruk atau yang satu golongan bener dan satunya golongan salah. Karena hidup terlalu sempit kalau hanya dilihat dari kacamata kuda seperti itu.

In between itu orang-orang yang dia bisa adaptif di golongan-golongan yang disebutkan diatas, dalam artian, dia bisa ngobrol dan berinteraksi dengan si agamis tapi ada suatu masa dia juga bisa dengan si duniawi, tetapi dengan kadar yang tidak berlebihan atau tidak terpengaruh secara berlebihan. Jadi kayak it’s okay now im in your circle and I respect it but I also have my own principle and integrity. Inget own, karena setiap orang pasti juga punya their own integrity and principle. In between ini ngejelasin dimana golonganku berada, ini seriously baru sadar pas curhatanku ditanggepin Dina. Kalau ibuku tanggepannya bilang itu termasuk golongan ‘moderate’ ya ditengah-tengah, intinya kamu punya experience bertemu macem-macem golongan orang dan jenisnya.

6 Mei 2017

Day 5: Mengaitkan Target dengan Kehendak Allah


Dalam post kali ini saya tidak berbicara perempuan lagi hehe. sebenarnya ada satu post terakhir tentang perempuan yang saya simpan untuk besok karena kebetulan pada momen yang tepat. Oke pos kali ini purely saya tulis ulang disini karena terlalu bermakna dan singkat jika saya resensi. Pos ini bersumber dari buku karya M. Quraish Shihab dengan judul 'Lentera Al-Qur'an: Kisah dan Hikmah Kehidupan' dalam babnya berjudul Mengaitkan Target dengan Kehendak Allah.

Muhammad Al-Ghazali, seorang ulama Mesir kontemporer, meriwayatkan dalam bukunya Rakaiz Al-Iman (Tiang-Tiang Iman), sebuah dialog antara Ja'far Al-Shadiq (702-765 M) dan seseorang santri bernama 'Unwan yang ketika itu berumur 94 tahun.'

'Ayah siapakah engkau?' tanya Ja'far Al-Shadiq
'Ayah Abdullah,' jawab sang santri. 'Apa maksud kedatanganmu?'
'Semoga tuan berkenan mengajarkan sedikit ilmu tuan kepadaku.'
'Ilmu bukanlah sesuatu yang diperoleh melalui proses belajar mengajar. Tetapi, ilmu adalah cahaya yang dicampakkan Tuhan ke dalam jiwa mereka yang dikehendaki-Nya. Jika engkau menghendaki ilmu, wujudkan terlebih dahulu di dalam dirimu hakikat pengabdian kepada Allah.'
'Apakah hakikat pengabdian itu?'
'Ada tiga macam. Salah satunya adalah tidak memastikan keberhasilan target, tetapi selalu mengaitkannya dengan kehendak Allah.'

5 Mei 2017

Day 4: Pembentukan Watak melalui Perempuan



Banyak Pakar kepribadian yang berkata bahwa kepribadian seseorang terbentuk melalui banyak faktor: ibu, bapak, lingkungan, dan bacaan yang merupakan faktor-faktor utama. Peranan ibu dan bapak bermula sejak dalam kandungan dan berlanjut hingga dewasa atau kepribadian anak terbentuk. Ini karena semua mengakui adanya faktor hereditas yang menurun kepada anak melalui ibu dan bapak bukan hanya fisik tetapi juga psikis. Situasi kejiwaan ibu-bapak saat kandungan juga dapat mempengaruhi anak.

Kalau kita ingin membandingkan peranan ibu dan bapak maka sangat jelas perbedaannya. Walaupun demikian perlu digarisbawahi bahwa bapak tetap dituntut untuk terlibat langsung dalam pendidikan dan pembentukan watak anak-anak. Setiap sosok memiliki sifat, kepribadian, pengetahuan, serta pengalaman yang terbatas dan berbeda-beda sehingga tidak bijaksana membiarkan ibu saja yang memengaruhi anaknya secara penuh.

Bapak dalam konteks pembentukan watak dituntut oleh kitab suci Al-Qur'an untuk mendukung ibu sekaligus memerhatikan anak. Dalam konteks peranan ibu dan bapak, kitab suci Al-Qur'an mengibaratkan bapak sebagai petani yang menanam benih, sedangkan ibu diibaratkan lahan.
'Istr-istri kamu adalah ladang buat kamu' (QS al-Baqarah:223). Betapapun baiknya benih, jika lahannya gersang atau dibiarkan ditumbuhi alang-alang dan diserang oleh hama, buah yang tumbuh tidak akan memuaskan. Walaupun buah telah tumbuh, petani masih dituntuk untuk memerhatikannya, membersihkannya, dan mengemasnya dalam kemasan yang baik dan indah sebelum dibawa ke pasar atau dimanfaatkan.