27 Juli 2023

Menjalani Hidup

Akhir-akhir ini aku belajar tentang frasa ini yaitu Menjalani Hidup. Frasa yang sangat sederhana tapi juga terasa sangat asing bagiku, bagi lingkunganku terutama. Karena… hmm hidup dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi ambisi, cita-cita, dan kehidupan yang lebih baik, frasa Menjalani Hidup itu seperti sangat asing, naif, pesimis, dan terkesan negatif. Tapi setelah mengalami fase hidup yang roller coasternya luar biasa dengan durasi yang cukup lama, rasanya… frasa itulah yang dapat menyelamatkan hidupku, setidaknya kewarasanku sampai detik ini.

Aku belajar bahwa hidup itu tidak selalu mulus dan jangan mengira bahwa hidup itu harus mulus. Wait, bentar ya bukan maksutnya pesimis, tapi maksut dari perkataan ini adalah agar saat kita diberi cobaan, ujian, atau tantangan hidup kita bisa menerima dan menjalani dengan ikhlas, bukan dengan menghindar. Gatau kenapa aku merasa kalau mindsetnya sudah:


‘pokoknya aku ingin hidupnya mulus sampai akhir hayat!’


kita cenderung ingin menghindari cobaan atau ujian yang sedang diberikan Allah bukan malah menjalaninya atau menyelesaikannya. Mungkin memang sesuai fasenya dulu kali ya, ‘denial’. 


Tanpa sadar saat kita memegang mindset tersebut kita juga membentengi diri pada suatu hal yaitu ketidaksempurnaan. Kayak anti banget jadinya sama ketidaksempurnaan, ketidaklancaran, ketidakmudahan, kegagalan, dll. Padahal semua itu bagian dari hidup. Emang kamu lagi di surga menuntut semua serba sempurna, ya enggak bisa lah :)


Aku menyadari ini saat aku sendiri menjadi bagian dari ketidaksempurnaan tersebut. Sendirian. Dan berusaha mati-matian untuk menangani diri, gentle pada diri sendiri, dan menggapapakan diri sendiri.


I’ve been strive to be a perfect person for years, a perfect daughter, a perfect student, and a perfect friends, until I become nothing (menurut standar society atau menurut mereka). For the first time i feel imperfect and cant catch up with those perfectionism for a long time.


Berkali-kali gagal dalam berbagai aspek kehidupan. Aku sudah pernah gagal tapi baru kali ini benar-benar gagal dalam waktu yang lama dan dalam banyak hal, beruntun pula. Menyakitkan? So pasti, Rendah diri? Tentu, Seperti tiada ujung? Sangat. Rasanya kayak mengalami nightmare yang panjang dan nunggu-nunggu kapan matahari akan terbit jadi aku bisa bangun. 


Merasa mengecewakan orang-orang di sekitar? Tentu, bagaimana tidak? Yang selama ini digadang-gadang kehidupannya akan lebih baik siapa :) dan akhirnya hasilnya bagaimana? 


Sampai bingung juga sama diri sendiri kenapa bisa kayak gini ya kenapa ya kenapa ya. Tapi dari semua hal yang aku alami tersebut aku jadi belajar melihat diri sendiri lebih dalam, melihat diriku as a human being. Aku jadi sering bertanya pada diri sendiri saat menghadapi penolakan/kegagalan dan kekecewaan dari orang-orang sekitarku. Pertanyaan seperti: 


‘Hanum, kalaupun kamu gagal, kamu berada di titik terendahmu atau sebenernya titik terendah menurut mereka, kamu sayang ga sama diri sendiri? Kamu menerima dirimu sendiri ga? Kamu menerima Hanum yang sekarang ga?’ 


Kemudian kayak sadar, oiya ya, kalau bukan aku sendiri yang menerima bahwa aku seperti ini, aku punya kekurangan, aku sedang gagal, aku sedang menghadapi hal pahit dalam hidupku, terus siapa lagi? Saat semua melawanku, terus yang membela diri dan menggapapakan diri sendiri siapa? Kemudian jadi mikir lagi:


‘Lagian ya Hanum yang kamu sedang hadapi itu ga negatif-negatif banget kok. Emang kamu kena narkoba, kena pergaulan bebas, kena ini itu yang ekstrim banget kejadiannya, enggak kan? wkwkwk yaudaah…😅’


Anti terhadap kegagalan atau ketidaksempurnaan biasanya timbul karena orang-orang seperti itu tanpa sadar mereka menganggap dapat mengontrol sebagian besar hidup mereka dan lupa bahwa hidup mereka dapat berjalan mulus pun itu dari takdirNya. Pikiran seperti:


‘Iyalah aku kan sudah bekerja keras, aku sudah disiplin, aku sudah banyak membantu orang, dan lain-lain. Makanya sekarang aku dapat hasilnya nih.’


Mengira bahwa mereka memang pantas mendapatkan itu hanya dari hasil jerih payah mereka. Lupa kalau ada tangan Allah yang menggerakkan juga. Bahkan bisa jadi keselip rasa-rasa sombongnya: 


‘Makanya kerja/usaha keras kayak aku, kamu sih ga ini itu dll makanya ga berhasil.’


Mungkin karena mereka belum pernah atau sudah lama tidak menghadapi kejadian bahwa sudah berusaha dengan keras, sudah semua dilakukan, 99% yakin jika akan berhasil dan sebagainya tetapi hasilnya nothing. Lupa kalau ada tanganNya yang lebih kuasa.


Selain itu aku juga jadi punya pandangan baru tentang menghadapi kekecewaan dari orang-orang sekitar. Aku baru sadar kalau rasa kecewa mereka padaku itu sebenernya setelah dipikir-pikir adalah bentuk kecewa mereka terhadap takdir yang sudah Allah jalankan padaku. Objek yang mereka kecewakan bukan aku, tapi takdirku. Kenapa? Ya karena coba liat lagi: kamu sudah selalu berusaha dengan baik, tekun, rajin, kerja keras, jujur, dan berdoa. Sedikitpun tidak keluar dari cara-cara yang diatur olehNya. Tapi hasilnya? semua pintu ditutup, berarti emang sudah takdir Allah kan yang berbicara. Mau semua orang di dunia ini mengutarakan kekecewaan padamu tapi kalau memang itu takdirNya ya kamu tidak bisa berbuat apapun. Jadi sebenarnya objek kekecewaan mereka bukan kamu Hanum, tapi takdirNya yang tentu kamu tidak bisa ubah, tidak bisa kontrol. Jadi tenang ya, kamu jangan merasa bersalah dan merasa sedih, kamu sudah melakukan semua prosesnya dengan baik.


Pandangan seperti itu sangat membantuku sekali, membantu meredam emosi, membersihkan hati, membersihkan pikiran, lebih sabar dalam berperilaku, dan lebih mawas diri. Dan tentunya lebih mendekat ke Allah, lebih menyadari bahwa hati manusia itu memang ada di genggamanNya, kuasaNya. Aku tidak bisa berbuat apapun, tidak bisa memastikan, memprediksi/estimasi kayak kalau aku berbuat seperti ini padanya maka dia akan seperti ini padaku, sama sekali tidak bisa diprediksi. Jadi karena kesadaran seperti itulah yang membuatku dapat bertahan menjalani hidup dan mau untuk tetap berbuat baik, sopan, menghargai, dan ramah terhadap siapapun. I see them as a human being, saat aku bisa melihat diriku sendiri as a human being yang punya kekurangan, kelebihan, dan sebagainya. 


Pada akhirnya aku hanya ingin berterimakasih ke diri sendiri. Terimakasih ya untuk Hanum yang selalu bisa atau selalu berusaha melihat sesuatu dari sisi yang positif, selalu ingin berprasangka baik dengan orang dan terlebih dengan Allah. 

Selalu berusaha untuk memaafkan dan bilang sama diri sendiri ‘yaudah gapapa yang penting kamu tetap menghargai dan berbuat baik sama mereka okay? ;)’ 


Yuk tetap menjalani hidup dengan baik, mau seperti apapun bentuk kehidupan yang sedang terjadi, sedang di atas atau di bawah, sedang mulus atau tidak, benang merahnya yaitu selalu pautkan hatimu untukNya ya :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar