5 Mei 2017

Day 4: Pembentukan Watak melalui Perempuan



Banyak Pakar kepribadian yang berkata bahwa kepribadian seseorang terbentuk melalui banyak faktor: ibu, bapak, lingkungan, dan bacaan yang merupakan faktor-faktor utama. Peranan ibu dan bapak bermula sejak dalam kandungan dan berlanjut hingga dewasa atau kepribadian anak terbentuk. Ini karena semua mengakui adanya faktor hereditas yang menurun kepada anak melalui ibu dan bapak bukan hanya fisik tetapi juga psikis. Situasi kejiwaan ibu-bapak saat kandungan juga dapat mempengaruhi anak.

Kalau kita ingin membandingkan peranan ibu dan bapak maka sangat jelas perbedaannya. Walaupun demikian perlu digarisbawahi bahwa bapak tetap dituntut untuk terlibat langsung dalam pendidikan dan pembentukan watak anak-anak. Setiap sosok memiliki sifat, kepribadian, pengetahuan, serta pengalaman yang terbatas dan berbeda-beda sehingga tidak bijaksana membiarkan ibu saja yang memengaruhi anaknya secara penuh.

Bapak dalam konteks pembentukan watak dituntut oleh kitab suci Al-Qur'an untuk mendukung ibu sekaligus memerhatikan anak. Dalam konteks peranan ibu dan bapak, kitab suci Al-Qur'an mengibaratkan bapak sebagai petani yang menanam benih, sedangkan ibu diibaratkan lahan.
'Istr-istri kamu adalah ladang buat kamu' (QS al-Baqarah:223). Betapapun baiknya benih, jika lahannya gersang atau dibiarkan ditumbuhi alang-alang dan diserang oleh hama, buah yang tumbuh tidak akan memuaskan. Walaupun buah telah tumbuh, petani masih dituntuk untuk memerhatikannya, membersihkannya, dan mengemasnya dalam kemasan yang baik dan indah sebelum dibawa ke pasar atau dimanfaatkan.



Bagaimana dengan perempuan? sosok ibu?
Sebagai seorang yang beriman dan beragama, kita percaya bahwa Allah telah menciptakan perempuan sedemikian berat untuk mengemban amanah yakni mendidik watak serta kepribadian anak. Sifat keibuan menjadi peranan penting dalam menjalankan amanah ini. Peranan yang paling agung dan besar bagi seorang perempuan adalah peranannya sebagai ibu. Peranan ini mustahil dilakukan oleh lelaki. Ibulah yang berada di rumah, di sekolah, di rumah sakit, di jalan raya, di tempat-tempat bermain, dan lain-lain, khususnya pada masa-masa pembentukan dan kepribadian anak.

Tindakan-tindakan seseorang lahir dari wataknya disadari atau tidak. Watak lahir dari hubungan seseorang dengan selainnya yang diperoleh dari pendidikan dan pengalaman berinteraksi dengan lingkungan, baik lingkungan hidup maupun benda-benda dan peristiwa-peristiwa. Proses pembentukannya berjalan sepanjang usia manusia. Namun perlu dicatat bahwa ada kesinambungan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pakar-pakar psikologi menyatakan bahwa perlakuan dan pengalaman anak pada masa kecil mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan watak dan kepribadiannya.

Dari sini pentingnya peranan perempuan dalam pembentukan watak seseorang. Kontak sosial pertama antara bayi dan lingkungan sosialnya adalah dengan perempuan yakni ibunya. Cara yang dilakukan oleh ibu besar atau sedikitnya perhatian, sabar atau tidaknya akan berpengaruh pada pembentukan wataknya. Perasaan percaya atau curiga pada seseorang adalah hasil dari pengalaman pada tahun-tahun pertama hidupnya.

Ibu, karena kedekatannya kepada anaknya serta karena sifat-sifatnya seperti digambarkan di atas, diharapkan lebih berperan dalam pembentukan watak anak. Perempuan yang berperan besar dalam pembentukan watak dituntut untuk banyak tahu tentang peranannya ini. Kedangkalan pengetahuannya akan melahirkan anak-anak yang berwatak buruk. Mau atau tidak mau, suka atau tidak, pandai atau bodoh, perempuan adalah pembentuk watak. Dia adalah sekolah yang bila dipersiapkan dengan baik, akan melahirkan manusia unggul, bahkan generasi yang tangguh dan luhur. Kalau tidak dipersiapkan atau tidak siap, perempuan menghasilkan manusia-manusia yang tidak berguna, bahkan berbahaya bagi masyarakatnya.

Namun perlu digarisbawahi bahwa perempuan sebagai pembentuk watak atau pendidik bukan berarti tidak memiliki peranan yang lain, atau tidak boleh bekerja. Kalau kembali kepada ajaran agama Islam, pada masa Nabi Muhammad saw. pun tidak sedikit perempuan yang bekerja dalam berbagai bidang dan itu tidak menghalangi mereka menjadi istri, ibu, serta pendidik yang baik. Ukuran terbaik antara ibu dan anaknya bukan apakah si ibu bekerja atau tinggal di rumah, melainkan 'keadaan emosi mereka yang tersembunyi'. Demikian kesimpulan penelitian National Institute of Child Health and Human Development (NICD). Karena itu marilah kita belajar dan belajar serta menampakkan keteladanan yang baik.

'Berkata benarlah karena kebenaran mengantar kepada kebajikan, dan sesungguhnya kebajikan mengantar ke surga. Sesungguhnya, siapa yang sering berucap benar, akhirnya menjadi seseorang yang memiliki watak yang mengantarnya selalu berucap, bertindak, dan bersifat benar.' 
(HR. Bukhari dan Muslim melalui Ibnu Mas'ud)

Demikianlah, Wa Allah Alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar