9 Mei 2017

In Between

ini post purely my personal opinion, sharing insight dari apa yang aku alami beberapa tahun belakang ini, terutama dalam kehidupan kampus hehe, enjoy it, and let's discuss, sangat open dengan opini kalian juga :)

Baru kenal istilah ini beberapa hari yang lalu. Jadi secara awam in between itu sebutan golongan orang-orang antara. Antara si agamis dengan si duniawi, antara akademisi dengan si titip absen setiap hari,  antara si sederhana dengan si sosialita, antara yang suka nongki-nongki dengan yang kuliah-pulang-kuliah pulang, antara yang sibuk kemana-mana rapat dengan yang selonya kebangetan, antara yang si aktivis kontributif dengan yang lurus-lurus aja, dan antara-antara yang lainnya. Aku ga ngejudge salah satu golongan mereka adalah golongan baik dan yang satunya golongan buruk atau yang satu golongan bener dan satunya golongan salah. Karena hidup terlalu sempit kalau hanya dilihat dari kacamata kuda seperti itu.

In between itu orang-orang yang dia bisa adaptif di golongan-golongan yang disebutkan diatas, dalam artian, dia bisa ngobrol dan berinteraksi dengan si agamis tapi ada suatu masa dia juga bisa dengan si duniawi, tetapi dengan kadar yang tidak berlebihan atau tidak terpengaruh secara berlebihan. Jadi kayak it’s okay now im in your circle and I respect it but I also have my own principle and integrity. Inget own, karena setiap orang pasti juga punya their own integrity and principle. In between ini ngejelasin dimana golonganku berada, ini seriously baru sadar pas curhatanku ditanggepin Dina. Kalau ibuku tanggepannya bilang itu termasuk golongan ‘moderate’ ya ditengah-tengah, intinya kamu punya experience bertemu macem-macem golongan orang dan jenisnya.

Kalau dipikir-pikir iya juga sih, dari segi organisasi udah pernah ngicipin dari yang level jurusan, fakultas, universitas, regional yogyakarta, sampai nasional, bahkan having corresponden untuk network international. Atau untuk golongan dari yang anak-anak, karena aku ngajar, yang lebih muda-muda di kota dan desa, yang lebih dewasa, bahkan yang lebih tua. Atau dari golongan kuli bangunan, penjaga warung, kepala dusun, dosen, expertise, relawan, founder, pekerja profesional, entrepeneur, CEO dan sebagainya yang pernah aku temui. Yang semua experience itu membuatku paham sampai pada tingkat dimana aku bisa belajar insight dari mereka dan aku bisa belajar bagaimana merespon atau menghargai mereka dengan baik. itu salah satu manfaat dari in between mungkin. Aku percaya di luar sana masih banyak orang yang lebih luas dan random in betweenya. Jadi ini personally opiniku saja hehe.

Nah yang aku pelajari dan ingin sharingkan dari menjadi seorang in between ini adalah aku jadi tambah paham, tambah percaya dan meyakini bahwa toleransi itu penting, don’t judge people by its cover itu bener banget adanya. Karena sekali lagi aku tekankan we know nothing about everyone, kita tidak tau latarbelakang keluarganya seperti apa, lingkungan seperti apa yang mereka jalani, daya juang hidup seperti apa yang mereka lakukan, kebaikan/keburukan apa yang mereka lakukan dan sembunyikan. Judge dalam hal ini tidak melulu judge yang buruk tetapi juga baik loh. Maksutnya judge baik yang bisa jadi buruk itu adalah saat judge baik tersebut kemudian digunakan untuk membandingkan, mengejek atau meremehkan orang lain. Judge baik itu boleh tetapi judgelah hanya pada satu pihak saja. Judge itu akan tidak menjadi baik saat dicomparekan dengan orang lain, because you know nothing about everyone.

Kamu gabisa ngejudge begitu saja orang yang outlooknya dia kayak ga ngerti agama, ga pernah sedekah, gatau aqidah, dan kamu tiba-tiba merasa lebih baik dengan outlookmu yang beragama. Karena kamu gatau yang ga kamu liat, aku punya beberapa kenalan yang misal dia dari luar kelihatan sangat agamis, tetapi sholat aja lupa, atau malah ada yang pake kerudung aja enggak, baju masih sopan sih, tetapi dia adalah orang yang selama aku berada disisinya selalu ngajakin sholat tepat waktu, even itu bisa dikerjain di kos pun tetep milih nanti dulu pulangnya sholat dulu. Bahkan dalam keadaan rapat bersama atasan pun berani untuk menyela dan ijin, atau yang kerudungnya biasa aja ga pakai rok ig story nya random-random tapi dia yang selalu ngajakin aku puasa senin kamis dan buka di masjid Nurul Asri sambil ngedengerin kajian. Yang kayak gitu ternyata banyak mereka berproses menjadi lebih baik dengan sederhana dan having no worries about people’s opinion. Atau ada yang dari luar keliatannya serem-serem, so selfish dengan hidupnya sendiri dan acuh sama pandangan orang lain. tetapi ternyata tiap weekend having volunteer di pinggir sungai code, dengan tulusnya berkontribusi langsung dan nyata :’) kamu masih mau berprasangka atau judge buruk dengan orang seperti itu hanya dilihat dari outlooknya?

Akhir-akhir ini aku merasa beruntung bisa ngrasain kuliah di Teknik Sipil UGM yang aku bertemu dengan macem-macem orang dari berbagai golongan, jenis karakter dan sebagainya. Tetapi yang akhir-akhir ini aku rasain banget adalah aku jadi lebih realistis orangnya. Realistis bukan berarti yang nyerah dan menerima keadaan begitu saja. Tetapi realistis yang kita bisa berani, tau dan paham menghadapi dunia luar paska kampus itu bagaimana, dunia real lapangan itu seperti apa. Apa-apa saja pengetahuan, strategi, karakter dan skill yang harus kita punya untuk meghadapi dunia kedepan dengan jalan track hidup yang dipilih. Seriously. Ya mungkin itu emang berlaku untuk di semua tempat dan sebagian besar orang yang sedang dalam jajakan quarter life-nya. Tapi gatau aku merasa berbeda aja, di Teknik Sipil UGM sedang banyak-banyaknya sharing paska kampus mungkin ya dengan alumni yang profesinya beda-beda dan ditambah lowongan kerja yang bermacam-macam jenisnya dan sering ditawarkan sehingga banyak mahasiswa nganggep itu challenge yang harus diraih, dihadapi atau dicoba.  

Akhir-akhir ini aku ngobrol, ngeliat temen-temen udah jalan dalam track hidupnya masing-masing, strategi kehidupan yang mereka rancang ga main-main, dan usaha mereka pun ga main-main. Walaupun kalau dilihat dari luar atau outlook mereka kayak nakal, badannya besar-besar brewokan, mukanya serem-serem, wkwkw, maap guys :p tapi kalau udah ngobrol sama mereka bisa begitu asyik juga bisa serius dan kritis. Dan yang paling ngebuatku terbuka pikirannya dan having more tolerance adalah saat mereka bisa sangat ngehargai kamu dengan outlook yang seperti itu :p Misal kalau lagi kumpul gitu makan, ngerjain tugas atau apa aja aktivitas yang sering cewek sipilnya cuma satu cowoknya lima orang atau lebih, makan di restoran terus diliatin karena ceweknya sendirian ditengah cowok-cowok serem gitu wkwk,

Cowok 1: *ambil rokok dari sakunya*
Cowok 2: ‘he kamu tu lo’
Cowok 1: ‘ada apa?’
Cowok 2: ‘Ada hanum ni loh, ngrokok sembarangan’
Cowok 1: ‘oiya lupa maaf hehe, gimana num boleh ga’
Hanum: iyaaa seloo aku sehat kok tiap pagi jogging

Dan kejadian-kejadian gentle lain yang aku merasa dihargai sejenak di kehidupan perkampusanku termasuk mereka-mereka yang selalu perhatian dan nyemangatin buat: ‘Hanum jangan maksain diri, selo wae’ ‘Hanum jangan sedih’ ‘Hai Hanum jangan sepaneng terus dong’ dan lain-lain wkwk kehidupan kampus yang bakal terus aku inget dan susah untuk dilupain :’ huhu terharu ambil tissue

Aku juga merasa beruntung kuliah di Teknik Sipil UGM saat aku bisa mempunyai pengetahuan tentang pembangunan infrastuktur mulai dari perancangan, pelaksanaan, operation&maintenance itu bagaimana. Yang dalam setiap tahap tersebut banyak faktor-faktor yang perlu diperhitungkan misal: RAB, risk managing, cost flow, bunga bank, scheduling, monitoring, faktor eksternal internal dan semuanya. Serba detail dan diperhatikan. Dan aku merasa itu terbawa dalam diri masing-masing anak Teknik Sipil, mereka jadi lebih realistis dengan strategi yang matang dengan usaha yang kuat dan fokus yang akhirnya ngebentuk mereka jadi lebih mandiri. 

Temen-temen berbadan besar dan brewokan tadi, kayak gitu mereka udah punya pandangan kedepan yang matang ternyata hahahaha, mereka udah mengkalkulasi tipe-tipe rumah, harga tanah, kerja dimana, ngeumrohin orang tua kapan, nikah kapan dengan wedding cost seberapa, dan fasilitas-fasilitas yang lain dibutuhkan untuk memasuki tahap-tahap kehidupan mereka itu seberapa dengan uang mereka sendiri, bahkan itu semua dihitung dengan bunga bank wkwkw. Jadi kalau gue invest segini, produktivitas segini, fee yang gue terima segini, gue berapa tahun perlu  kerja dan nentuin waktu disaat gue bisa nikah, beli rumah, dan lain-lain secara mandiri. Itu beneran, beneran, sampe shock aku dengernya astaga wkwkw even temenku itu mau lanjut kuliah lagi pun dia having plan memandirikan dirinya dengan ngejar beasiswa, nanti kuliah sambil internship, part time atau having project dimana dengan fee seberapa sehingga pulang aku bisa nikah, beli rumah, dan ini itu. Gila emang, padahal outlooknya kagak keliatan bermasa depan terstruktur wkwk

Dengan menjadi in between gitu bukan berarti terus gampang mengikuti arus kesana kemari hanya untuk biar bisa adaptif. No. malah justru itu sebagai ajang mengenal diri juga kalau menurutku. Mengenal diri karena orang itu having no business dengan apa yang kamu lakukan, kamu mau nglakuin apapun it’s okay. Jadi itu malah membuatku semakin bisa mengenal diri dan mengetahui kadar diri, principle and integrity ku itu sebenarnya apa aja.

Nah jadi seperti itulah rasa nano-nano in between, masih ada lagi insight-insight yang aku dapetin yang mengukuhkanku bahwa: aku gaboleh meremehkan orang lain, termakan stereotype, termakan outlook, termakan status quo. Ga gaboleh dan gaperlu.

Dunia ini akan lebih indah saat manusianya saling menghargai satu sama lain :) 

Dan jangan bebani pikirmu penuh dengan prasangka opinion tentang orang lain. Take it easy and having your own principle and integrity :)

2 komentar:

  1. Couldnt agree more!!
    Btw, siapa nih badan gede brewokan??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu claudio, iantul, dika, hasyim, afiq, mereka udah pada punya tabungan masa depaan lii :'' pdhal mereka target nikah 27 28 29an li

      Hapus